Anak kecil itu lucu. Kita bilang dia masih kecil, dia langsung protes. “Aku sudah besar.” Tetapi begitu ia ingin melakukan sesuatu sendiri, kita yang panik. Takut jatuh. Takut salah. Takut bajunya kotor. Kadang takutnya terlalu jauh.
Ada orangtua yang mulai cemas ketika beberapa menit tidak mendengar suara anaknya. Padahal anak itu hanya bermain di samping rumah. Begitu suasana mendadak sepi, langsung dicari. “Ke mana anak ini?”
Setelah ditemukan, ternyata sedang jongkok mengamati semut. Atau menyusun batu. Bisa juga sedang membongkar mobil-mobilannya. Mainannya memang rusak, tetapi rasa penasarannya terjawab. Akhirnya ia tahu apa yang ada di dalam benda yang selama ini dimainkan. Orang tuanya kesal. Anaknya malah puas.
Begitulah anak-anak. Mereka ingin tahu. Ingin mencoba. Ingin dipercaya sudah bisa melakukan sesuatu. Sementara kita, orang dewasa, sering ingin mereka tumbuh, tetapi masih memperlakukannya seperti anak kecil.
Saya percaya tidak ada anak yang tidak punya kelebihan. Tidak ada pula anak yang sama sekali tidak punya prestasi. Hanya saja, ukuran prestasi telanjur kita buat terlalu sempit. Harus juara. Harus ada piala. Harus punya sertifikat. Paling tidak, nilai rapornya bagus. Kalau tidak ada semua itu, kita sering bingung mau membanggakan apa.
Padahal, ada anak yang nilai matematikanya biasa saja, tetapi paling cepat menolong temannya. Ada yang pendiam di kelas, tetapi begitu memegang pensil warna, dunianya keluar semua. Ada juga yang hafal nama seluruh pemain sepak bola, meski nama pahlawan dalam buku pelajaran masih sering tertukar.
Apakah itu kelebihan? Tentu. Hanya saja, belum tentu dianggap penting oleh orang dewasa.
Anak yang pendiam sering dinilai tidak punya kemampuan. Anak yang aktif dianggap nakal. Anak yang banyak bertanya malah diminta diam. Padahal, mungkin ia bukan cerewet. Rasa ingin tahunya saja lebih besar daripada kesabaran kita menjawabnya. Kita ingin anak percaya diri, tetapi terlalu sering mengatakan, “Kamu belum bisa.”
Kita ingin anak mandiri, tetapi hampir semua hal kita kerjakan untuknya. Begitu ia mencoba sendiri, kita buru-buru mengingatkan agar jangan salah.
Lalu, ketika ia tumbuh menjadi pemalu dan ragu-ragu, kita bertanya, “Kok enggak percaya diri?” Mungkin anak itu ingin menjawab. Hanya saja, ia sudah terlalu sering diminta diam.
Ada anak yang terlihat hebat di rumah, tetapi tidak terlihat di sekolah. Di rumah ia menyanyi keras, menari di depan televisi, atau bercerita sampai orangtuanya bosan. Begitu masuk kelas, suaranya hilang.
Sebaliknya, ada anak yang aktif dan berprestasi di sekolah, tetapi tidak pernah benar-benar terlihat di rumah. Orangtuanya tahu ia berangkat pagi dan pulang siang. Setelah itu, pertanyaan yang keluar hampir selalu sama. “Dapat nilai berapa?”
Tidak salah menanyakan nilai. Masalahnya, kadang hanya itu yang kita tanyakan. Bisa jadi hari itu anak kita membaca puisi di depan kelas untuk pertama kali. Bisa jadi ia membantu temannya yang menangis. Bisa juga ia memberanikan diri mengangkat tangan, menjawab pertanyaan, lalu jawabannya salah. Tetapi setidaknya ia berani mencoba.
Sayangnya, pencapaian seperti itu tidak tercetak di rapor.
Dari kegelisahan sederhana itulah program Bintang Sekolah disiapkan. Bukan dari teori yang rumit. Bukan pula karena kami ingin mencari anak paling hebat di Banten. Program ini lahir dari keyakinan bahwa setiap anak memiliki sesuatu yang bisa dibanggakan. Hanya belum semuanya memperoleh kesempatan untuk memperlihatkannya.
Bintang Sekolah tidak disiapkan hanya untuk anak-anak yang sudah punya banyak piala. Kalau yang boleh tampil hanya mereka yang sudah juara, itu bukan mencari bintang. Itu cuma memindahkan lemari piala ke atas panggung.

Yang pandai berhitung, menyanyi, menari, mendongeng, membuat karya, atau punya kemampuan unik, silakan tampil. Tidak semua anak harus menjadi penyanyi. Tidak semuanya harus pintar menari. Ada yang mungkin lebih suka merakit benda, membuat kerajinan, menghafal, bercerita, atau memperlihatkan sesuatu yang selama ini hanya ia lakukan di rumah.
Yang penting, anak menemukan satu hal yang membuatnya berani berkata, “Ini kelebihanku.”
Namun, anak tidak cukup hanya punya keinginan. Ia membutuhkan orangtua yang mendorong dan sekolah yang memberi jalan.
Sekolah tentu bukan hanya tempat mengejar nilai. Anak perlu dibawa keluar dari ruang kelas. Bertemu orang baru. Menghadapi suasana berbeda. Belajar berdiri di atas panggung. Merasakan gugup, melakukan kesalahan, lalu mencoba lagi. Pengalaman seperti itu tidak selalu bisa didapat di dalam kelas. Anak juga membutuhkan kehadiran dan kepercayaan. Kadang cukup satu kalimat. “Coba saja. Ayah dan Ibu percaya kamu bisa.”
Setelah itu, biarkan ia mencoba. Jangan baru setengah jalan sudah diambil alih. Jangan pula karena hasil pertamanya belum bagus, lalu buru-buru dianggap tidak berbakat. Namanya juga belajar. Orang dewasa saja masih sering salah, apalagi anak-anak.
Bintang Sekolah tentu tidak langsung melahirkan penyanyi besar, ilmuwan terkenal, atau seniman hebat. Kami memang tidak sedang membuat keajaiban dalam sehari. Yang ingin ditumbuhkan lebih sederhana, yaitu keberanian.
Mungkin pada penampilan pertama seorang anak masih naik panggung sambil menunduk. Tidak apa-apa. Yang penting ia sudah naik. Pada kesempatan berikutnya, kepalanya mungkin mulai tegak. Suaranya mulai terdengar. Tangannya tidak lagi terlalu gemetar. Lalu ia mulai berpikir, ternyata saya bisa juga.
Kami menyiapkan program ini dengan serius. Ada 25 anak muda, sebagian masih mahasiswa dan sebagian baru lulus kuliah, dan sebagian lainnya wartawan senior. Mereka terlibat sejak praproduksi hingga tayangan selesai.
Mereka menyiapkan panggung bagi anak-anak. Diam-diam, mereka juga sedang membangun panggung bagi cita-citanya sendiri.
Barangkali banyak anak hari ini tidak kekurangan kemampuan. Mereka juga tidak kekurangan cita-cita. Yang belum cukup tersedia adalah kesempatan dan kepercayaan. Kita terlalu sering meminta anak membuktikan dirinya lebih dahulu, baru memberikan ruang. Padahal, justru ruang itulah yang membuat seorang anak mampu membuktikan dirinya.
Bintang Sekolah tidak menjanjikan semua anak menjadi juara. Itu bukan tujuannya. Kami hanya ingin setiap anak pulang dengan satu keyakinan baru: “Aku juga bisa.” (*)










