Butuh ketelitian dan kecermatan dalam pembuatan bidak catur. Termasuk catur super besar seperti yang diproduksi Jodi Purnama, warga Pondokranji, Ciputat. Proses pembuatannya pun tak sebentar. Sedikitnya satu paket bidak catur dia buat dalam sebulan.
BIDAK catur buatan Jodi berbeda dengan bidak catur lainnya. Meskipun tak digunakan dalam pertandingan, tapi pesanannya sudah bisa dikirim ke luar pulau. Bahkan ketika Radar Banten mengunjungi studio miliknya, Jodi mengaku sedang membuat pesanan milik pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.
Akhir-akhir ini, kata Jodi, jumlah pesanan karyanya kian banyak. Padahal, kemampuannya produksi hanya bisa menghasilkan satu paket dalam sebulan. Belum lagi jika permintaannya juga mencakupi papan catur, durasi pembuatannya akan semakin lama.
Bisnis ini dimulai Jodi sejak enam tahun lalu. Saat itu, Jodi sudah tak lagi berkerja. Jodi berinisiatif membuka usaha. Apa saja, asal menghasilkan keuntungan. Tapi tidak ada bisnis yang langsung menguntungkan. Butuh proses, bantuan dan motivasi.
”Dulu saya berhenti bekerja dari salah satu pabrik sepatu. Saya merasa tidak nyaman bekerja di bawah perintah orang lain. Begitu pula tekanan yang mengharuskan saya menaati peraturan. Akhirnya saya berhenti, memutuskan untuk membuka bisnis dengan uang tabungan,” papar Jodi.
Menganggur selama tiga bulan membuatnya jenuh. Hidup dengan mengandalkan uang tabungan, tak akan cukup. Tapi, di usianya saat itu yang masih produktif dia berprinsip pantang meminta orang lain.
”Akhirnya saya minta saran dengan banyak orang. Saya sendiri lupa kenapa saya memilih bisnis ini. Karena sudah lama. Intinya ketika saya berkonsultasi dengan beberapa orang memang keputusan saya membuka bisnis ini didukung mereka,” ujar lelaki berkumis ini.
Membangun bisnis di era sulit teknologi menjadi tantangan baru bagi Jodi. Enam tahun lalu, teknologi belum secanggih sekarang. Tempat belanja online tak seramai sekarang. Media sosial pun tidak seterkenal sekarang. Jodi memasarkan produknya secara manual. Dari mulut ke mulut, dari orang ke orang. Sampai akhirnya banyak orang tahu, ada barang unik yang dibuat tangan lihai Jodi.
”Tiga tahun pertama memang keadaannya sangat sulit. Jangankan keuntungan, modal saja enggak balik-balik. Padahal harganya enggak semahal sekarang. Saya jual dari yang awalnya tinggi, enggak laku saya diskon sampai saya jual satuan karena kalau sepaket kemahalan. Tetap enggak laku,” kata Jodi sambil tersenyum.
Namun rasa optimistis dan ketetapan hatinya membangun bisnis akhirnya membuahkan hasil. Pemasaran dari mulut ke mulut kini yang membawa Jodi sukses membangun bisnis. Bahkan saat ini, sudah banyak yang mengatre untuk dilayani pemesanannya.
”Saya kan bekerja sendiri. Kalau bawa karyawan rasanya takut kalau buatannya berbeda dengan buatan saya. Konsumen juga begitu, maunya saya yang buat. Makanya konsekuensinya ya menunggu. Sampai akhir tahun ini, alhamdulillah pesanan full,” ujarnya.
Saat ini Jodi mengaku kalau omzet per bulannya mencapai Rp36 juta. ”Alhamdulillah. Tapi biasanya nambah karena kadang konsumen pengennya satu paket dengan papannya. Nambah waktu lagi sih,” ujarnya.
Tak hanya bidak catur raksasa, Jodi juga membuat gantungan kunci berbentuk tangan. ”Itu cuma iseng-iseng saja. Kalau lagi lelah buat catur ya buat gantungan kunci,” pungkasnya. (Annisa Fitrah Laela/RBG)










