Sudah tujuh tahun Abdul Hakim menekuni karya seni lukis berbahan kulit telur. Dari tangannya, berbagai macam kulit telur disulap menjadi kaligrafi, panorama alam, dan wajah orang terkenal. Karyanya pun telah melirik pasar luar negeri seperti ke Qatar dan Jepang.
Dengan tatapan serius, Abdul Hakim meniti bulatan kulit telur di hadapannya. Tangannya yang kekar perlahan menempelkan kuas untuk membuat pola gambar di atas bidang bundar berwarna kuning kemerah-merahan tersebut. Gambarnya belum terlihat jelas, baru sekadar sketsa tanpa bentuk. ”Tunggu beberapa jam, nanti kelihatan juga kok (gambarnya-red),” ujar Abdul Hakim membuka percakapan.
Peluhnya membasahi kaus yang dipakai pria ramah senyum tersebut. Hawa panas menyeruak di studio kecil miliknya. Ya, Abdul Hakim membuat studio kecil di dalam rumahnya, Jalan Raya Puspiptek, Gang Anggrek, Baruasih, Kota Tangsel. Bak etalase galeri seni, pria yang berprofesi sebagai guru SD ini memajang lukisan telur hasil karyanya di studio mungil tersebut.
Selain menjadi bengkel kerja, studio ini juga menjadi markas perkumpulan Betah Bale, sebuah komunitas pencinta seni lukis telur di lingkungannya.
Kulit telur ditaruhnya di atas papan tripleks. Perlahan namun pasti, ia membuat sketsa wajah. Sesaat kemudian, Abdul Hakim berhenti dan meminta wartawan mewawancarainya. Bukan tanpa alasan, ia harus berhenti dahulu untuk melukis. Pasalnya untuk melukis wajah, ia butuh waktu satu sampai tiga minggu untuk menyelesaikannya. ”Jadi wajar lukisan wajah dari kulit telur itu mahal,” ujarnya.
Pria yang juga guru di SDN Muncul I, Setu, mengaku, awal mula ia berbisnis lukisan telur dimulai pada bulan Oktober 2010. Saat itu, dirinya tengah membereskan dapur. Banyak sampah kulit telur yang terbuang begitu saja. Nalurinya sebagai seniman mulai datang. Sampah telur yang menggunung sengaja ia kumpulkan untuk membuat sebuah karya seni.
”Sampah yang saya kumpulkan belum saya buat lukisan dulu, tapi baru sebatas dibuat vas bunga,” ujar pria tegap itu seraya menyesap teh yang ia bawa dari dalam rumah.
Setelah diperkenalkan kepada handai tolan, ternyata ekspektasinya di luar dugaan. Mereka kagum dengan hasil karyanya. Lambat laun pikirannya berubah untuk mencari cara lain membuat karya seni yakni lukisan. ”Karena saya kebetulan suka melukis, ya saya pikir kenapa tidak dijadikan lukisan saja?” ujarnya.
Dengan menggunakan alat sederhana berupa lem kayu dan triplek, sampah-sampah telur itu disulap jadi lukisan. Sampah terbuang itu berubah menjadi barang berharga. Tak cuma sekadar berharga, diakui Hakim, harga lukisan telur miliknya bisa dibanderol dengan nominal angka puluhan juta rupiah.
Di tengah naiknya harga alat lukis dan kanvas, media telur yang rentan menjadi penggantinya. Menurutnya, untuk menciptakan barang berharga tidak perlu mengeluarkan banyak uang. ”Asal ada niat dan keinginan untuk menciptakan sesuatu yang unik, bagi saya itu sudah cukup,” paparnya.
Apalagi sampai saat ini kulit telur yang digunakan masih tetap sampah yang dibuang oleh sebagian besar orang. ”Saya dapat kulit telur sekarang dari tukang nasi goreng. Saya bilang saya beli saja, daripada dibuang saya bilang buat saya saja lebih bermanfaat,” ujarnya.
Meski demikian, ia tak ingin berkarya sendiri. Lewat komunitas seni yang diberi nama Betah Bale, Abdul Hakim menyalurkan ilmunya kepada pemuda sekitar. ”Besar harapan dengan komunitas ini, ada banyak anak muda yang akan menjadi seniman dan meneruskan ilmu saya,” ujarnya. (Annisa Fitrah Laela/RBG)









