LEBAK – Pengungsi korban banjir bandang dan longsor di enam kecamatan di Lebak mulai meninggalkan posko pengungsian untuk kembali ke rumah masing-masing. Namun demikian, masih ada korban bencana yang bertahan di posko pengungsian karena rumahnya hancur tersapu banjir dan longsor.
Pantauan Radar Banten di posko pengungsian di Gedung PGRI Sajira, jumlah pengungsi yang bertahan di lokasi tersisa 41 kepala keluarga (KK). Padahal, setelah banjir dan longsor menerjang, tempat tersebut dipenuhi pengungsi dari beberapa desa di Kecamatan Sajira. Sekarang, lokasi pengungsian tampak sepi dan hanya ada beberapa keluarga yang istirahat di sana.
Kondisi serupa juga tampak di posko pengungsian di Bungurmekar, Kecamatan Sajira, tenda-tenda pengungsian yang dibangun pemerintah maupun swadaya masyarakat mulai sepi. Sebagian pengungsi kembali ke rumah di Kampung Susukan dan Bolang. Tapi, pada malam hari mereka kembali lagi ke tenda pengungsian dan hanya menyisakan bapak-bapak atau pemuda untuk ronda di Susukan maupun di Bolang.
Rendi, relawan Taruna Siaga Bencana (Tagana) di posko pengungsian di Gedung PGRI Sajira mengatakan, jumlah pengungsi berkurang signifikan. Awalnya, jumlah pengungsi mencapai 500 orang. Tapi, sekarang kurang lebih 120 orang atau hanya 41 KK saja.
“Warga yang masih mengungsi di sini hanya 41 KK. Mereka rata-rata rumahnya rusak berat dan terbawa arus sungai sehingga enggak tahu harus pulang ke mana,” kata Rendy kepada Radar Banten, kemarin.
Namun demikian, dapur umum di posko pengungsian di PGRI Sajira tetap melayani para pengungsi dan relawan yang bekerja siang malam membantu korban banjir. Bahkan, pihaknya memasak untuk pengungsi di posko pengungsian di Cikomara, Desa Banjaririgasi, Kecamatan Lebakgedong. Setiap pagi, siang, dan sore relawan mengantarkan nasi bungkus untuk 350 orang pengungsi yang masih bertahan di sana.
“Kalau masak nasi, sayur, dan lauk, tetap kami lakukan setiap hari. Bahkan, tugas kami bertambah karena harus memasok nasi bungkus untuk korban banjir dan longsor di Lebakgedong,” imbuhnya.
Ditanya apakah logistik yang ada di posko masih mencukupi, Rendy menginformasikan, masih tersedia. Namun, ada beberapa jenis logistik yang kurang di antaranya sayuran dan bumbu-bumbu dapur. Untuk mi instan, air mineral, dan telur masih cukup.
“Iya, kebutuhan kita yang kurang, yakni sayuran dan bumbu dapur,” terangnya.
Senada disampaikan relawan Tagana lainnya, Udin. Kata dia, untuk mi dan telur stoknya masih cukup banyak. Tapi, sayuran dan bumbu dapur sudah menipis. Bahkan, para pengungsi jarang mendapatkan asupan lauk dan daging.
“Untuk menu daging ayam pernah kita sajikan ketika ada bantuan dari perusahaan produsen ayam. Tapi, setelah itu enggak ada lagi. Karenanya, pengungsi kita berikan tahu, tempe, mi, dan goreng telur,” paparnya.
Relawan akan berupaya maksimal melayani para pengungsi yang masih bertahan di posko pengungsian. Karena itu, pihaknya akan menjamin kebutuhan makan dan minum pengungsi. Bahkan, pengungsi yang sakit pun dipantau terus oleh tim medis dari puskesmas.
“Dokter masih disiagakan untuk memberikan layanan kesehatan terhadap pengungsi yang menjadi korban bencana banjir dan longsor,” ujarnya.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak Kaprawi menginformasikan, posko pengungsian di beberapa lokasi di enam kecamatan sudah mulai dicabut. Seperti posko pengungsian di Mayak, Kecamatan Curugbitung, dan Maja. Di sana, para pengungsi sudah kembali ke rumah masing-masing sehingga pemerintah daerah mencabut posko pengungsian dan mengalihkan konsentrasi untuk menangani pengungsi di kecamatan lain.
“Posko di Curugbitung dan Maja sudah dicabut karena pengungsinya sudah kembali ke rumahnya masing-masing. Bahkan, mereka sudah beraktivitas normal kembali,” jelasnya.
Sekarang tersisa lebih lima posko pengungsian, yaitu di PGRI Sajira, Desa Bungurmekar, Banjaririgasi, Ciladaeun, dan di Dodiklatpur Rindam III Siliwangi Ciuyah, Kecamatan Sajira. “Semua pengungsi dijamin pelayanan dasarnya. Karena itu, kita terus salurkan bantuan ke posko pengungsian yang logistiknya mulai menipis,” paparnya.(tur/alt/ira)










