Oleh: Ira Andani, Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa 2021
Ramai kudengar sorak-sorak gemuruh janji. Mereka selalu mengatakan hal-hal baik yang telah lama kami nantikan. Berharap dapat segera terlepas dari segala belenggu kemiskinan dan pengangguran yang melanda. Entah apa yang mereka bicarakan. Samar telinga ini mendengar, “Sungguh aku tak akan pernah termakan oleh omongannya”. Aku dan orang-orang disekitarku, kami membutuhkan bantuan. Kata-kata yang mereka ucap terdengar manis. Seolah menjadi sebuah jawaban dari doa-doa yang selama ini kami panjatkan. Aku tak tahu, benarkah semua ini akan diwujudkan nantinya, ataukah tidak sama sekali, dan hanyalah menjadi omong kosong belaka. Mereka terlihat seakan yakin dengan apa yang digaungkannya pada negeri ini. Bersuara dan menggema, kedustaan yang kami benci. Aku, kamu, dan kita semua sama, kami menunggu keajaiban pada negeri ini. Seraya meminta pada Tuhan, “Tolong sembuhkan bumi kami. Karena kini Indonesia ku sedang tidak baik-baik saja”.
Aku Winda, ditahun ini untuk pertama kalinya aku ikut serta dalam pemilu. Para kandidat calon wali kota itu mulai menjalankan misinya, mereka melakukan berbagai pemasaran untuk mencapai keberhasilan yang diinginkan. Tentu masyarakat lah yang menjadi sasaran target dalam proses pemasaran. Pemasaran yang aku maksudkan disini adalah kampanye. Ya betul, sebelum pemilihan umum dilaksanakan, biasanya ada periode tertentu untuk para calon kandidat berkampanye. Tidak hanya dalam dunia bisnis, dalam politik pun perlu adanya marketing atau pemasaran. Hal ini dilakukan untuk menarik hati rakyat sebanyak-banyaknya agar pada pemilu nantinya ia berhasil terpilih dengan suara terbanyak. Pagi itu pukul 07.00, aku harus cepat berangkat ke sekolah. Hari ini ada ulangan matematika, dengan terburu-buru aku berjalan keluar rumah tanpa sempat menutup pintu. Akhirnya, dengan sedikit berlari, aku sampai di halte. Aku duduk dengan tergesa dan napas yang terputus-putus, capek sekali rasanya berlari kecil di pagi hari dengan jarak yang cukup jauh. Tak lama kemudian ada angkot yang dating, angkot ini akan melewati sekolahku, segera aku lambaikan tangan dan menaikinya. Di dalam angkot aku tak sengaja bertemu dengan salah satu teman sekolahku yang terkenal dengan kecerdasannnya.
“Eh Nadya, kebetulan banget kita bareng hehehe…” kataku memulai obrolan.
“Eh kamu Win, telat juga? Hahaha…” kata Nadya dengan sedikit tertawa.
“Iya nih Nad, semalem aku bergadang, makanya jadi kesiangan gini” jawabku pada Nadya.
“Hahaha…kita sama Win, semalem aku juga begadang. Pasti buat persiapan ulangan matematika hari ini yakan?” tanya Nadya dengan senyuman manisnya.
“Wah aku gak se-rajin kamu Nad, semalem aku begadang karena nonton film, episodenya banyak banget abisnya hahaha…” jawabku dengan tertawa renyah.
“Yeh aku kira karena kamu belajar buat persiapan ulangan, taunya nonton hahaha…” kata Nadya dengan tatapan meledek.
“Hehehe…” tawaku mengakhiri obrolan.











