Sesampainya di sekolah kami berdua bergegas masuk kelas, untungnya gerbang sekolah masih terbuka. Beberapa menit kemudian, bel masuk jam petama pun berbunyi. Jam menunjukkan pukul 10.00, waktu untuk mengerjakan ulangan pun habis, segera aku kumpulkan kertas jawabanku dengan beberapa soal yang belum terjawab. Aku bergegas ke kantin untuk beristirahat, aku membeli satu jus alpukat dan membawanya ke salah satu meja yang masih kosong. Tiba-tiba Nadya menghampiriku dengan membawa segelas es teh manis.“Hai Win!” sapa Nadya sambil pelahan duduk di hadapanku.
“Eh Nadya, ada apa Nad?” tanyaku pada Nadya.
“Gak ada apa-apa sih Win, aku cuma pengen ngobrol lagi aja kaya tadi di angkot hahaha…” jawab Nadya sambil tertawa renyah.
“Ooohh gituu, boleh dong Nad” kataku dengan sedikit tersenyum.
“Bentar lagi kan pemilu wali kota nih Win, tanggapan kamu gimana soal itu?” tanya Nadya padaku.
“Soal dunia politik aku gak tau banyak sih Nad, tapi yang pasti aku tau, biasanya calon-calon pas kampanye banyak berjanji inilah itulah tapi ga ada realisasinya sama sekali” jawabku sok tahu.
“Ya gitu lah Win, janji manis terus tapi ga ada aksi nyatanya buat masyarakat” kata Nadya menyetujui perkataanku.
“Makanya Nad, aku paling gak suka nih kalo udah masa periode kampanye kaya sekarang ini, baliho dimana-mana, visi misi dan proker disuarakan” kataku sambil mengaduk jus alpukat yang hampir habis.
“Tapi kita gabisa sama ratakan juga sih Win. Maksudku, mungkin aja dari beberapa calon, ada yang emang jujur dan amanah” jelas Nadya.
“Entahlah Nad, yang jelas aku berhadap siapapun wali kota yang terpilih nantinya, dia bisa menjalankan tugasnya dengan baik, dan penuhi semua janji-janji manisnya hahaha…” kataku sambil tersenyum tipis.
“Bener banget Win, jangan sampe deh ya kaya yang sebelum sebelumnya hahaha…” kata Nadya bersemangat.
Bel masuk jam kedua pun berbunyi.
“Eh udah bel, gak kerasa banget ya. Yuk Nad ke kelas bareng” ajakku pada Nadya.
“Yuk Win!” jawab Nadya mengiyakan ajakanku.











