PANDEGLANG,RADARBANTEN.CO.ID-Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pandeglang masih menyimpan buku sejarah peninggalan zaman Kolonial Belanda yakni Staatblad Van Nederlandsch Indies.
Buku Staatblad menjadi salah satu koleksi buku sejarah yang ditulis pada tahun 1905 dalam bahasa Belanda.
Dalam buku Staatblad ternyata menguak sedikit sejarah Kabupaten Pandeglang. Berdasarkan laporan resmi Pemerintah Hindia Belanda sebagaimana tertuang dalam Regeeringsalmanak voor Nederlandsch Indie Tahun dalam 1865 – 1874 dan Almanak en Naamreqister van Nederlarndsch Indie Tahun 1848- 1864, serta Appendix I Colonial Period Regent dalam Notes Java’s Regent Families halaman 34.
Jauh sebelum 1 April 1874 telah melaporkan keberadaan regent Van het middenregentschap Bupati Kabupaten Tengah Pandeglang beserta para personeel in de birnenlanden yang lainnya.
Menurut Kabid Arsip pada Dinas Perpustakaan dan Arsip Kabupaten Pandeglang Heryana mengatakan, isi buku Staatbllad mengulas sejarah berdirinya Pemerintahan Kabupaten Pandeglang.
“Hal itu diketahui dari buku berjudul Dalam Dekapan Pandeglang hasil karya penulis Bambang Eka Purnomosidi. Yang menerjemahkan sejarah Pandeglang dari bahasa Belanda ke dalam versi bahasa Indonesia,” katanya kepada RADARBANTEN.CO.ID, Senin 29 Mei 2023.
Bambang Eko Purnomosidi hanya sedikit menerjemahkan buku Staatblad ke dalam Bahasa Indonesia. Itu juga yang terkait tentang sejarah berdirinya Kabupaten Pandeglang.
Setelah menerjemahkan buku Staatblad secara pribadi Bambang menilai kurang tepat terkait penetapan tahun berdirinya Kabupaten Pandeglang yang kita ketahui sekarang ditetapkan tanggal 1 April 1874.
Bambang beralasan jauh sebelum itu di Kabupaten Pandeglang sudah ada bupati yang menjalankan roda pemerintahan.
Dalam buku Staatblad Van Nederlandsch Indie tahun 1905 itu mengisahkan bahwa jauh sebelum 1 April 1874 telah melaporkan keberadaan regent Van het middenregentschap Bupati Kabupaten Tengah Pandeglang beserta para personeel in de birnenlanden yang lainnya.
Ada tiga orang Bupati Pandeglang yang menduduki jabatannya sebelum tahun 1874. Mereka adalah R.T. Aryo Tjondronegoro menjabat Bupati Kabupaten Tengah Pandeglang masa jabatan tahun 1848.
Lalu, R.A.A Natadiningrat masa jabatan 1489-1866.
Lalu R.T Pandji Gondoekoesoemo 1866-1874
“Adanya ketiga bupati itulah yang membuat penulis merasa kurang tepat penetapan hari Jadi Kabupaten Pandeglang tanggal 1 April 1874. Penetapan itu merupakan hasil penelitian Panitia Sejarah yang dibentuk melalui Surat Keputusan Bupati Kepala Daerah tingkat II Pandeglang tanggal 26 September 1978, Nomor 111/Ks. 1 15/SK/ 1978, berkesimpulan bahwa Tanggal 1 April 1874 merupakan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang,” katanya.
Sebagaimana ditetapkan dalam Surat
Keputusan Gubernur Jenderal tanggal 1 Maret 1874 Nomor 23 (Staatsblad 1874 Nomor 73). Hari Jadi Kabupaten Pandeglang merupakan titik tolak sejarah dan secara juridis dibentuknya Kabupaten Pandeglang.
Kesimpulan ini menjadi ketetapan Peraturan Daerah Tingkat II Pandeglang Nomor 05/Dp. 030/PD Tahun
1982 tentang Penetapan Hari Jadi.
“Tapi benarkah Staatsblad van Nederlandsch Indie Nomor 73 Tahun 1874 berbicara tentang menetapan Hari Jadi Kabupaten Pandeglang. Sepengetahuan penulis, Staatsblad Nomor 73 Tahun 1874 hanya berbicara tentang reorganisasi pemerintahan daerah di Pulau Jawa dan Madura,” katanya.
Dengan pengecualian Keresidenan Batavia dan Kabupaten Priangan, Staatsblad ini hanya berisi perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda agar Kabupaten di Pulau Jawa dan Madura membagi wilayah. Pembagian kabupaten dalam distrik dan
onderdistrik dilakukan juga oleh sedikitnya 68 kabupaten lain di pulau Jawa dan Madura.
“Hal itu terlampir pada Staatsblad yang sama. Oleh karena apabila perintah Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 April 1874 dijadikan titik tolak sejarah oleh kabupaten lain, kabupaten di Pulau Jawa hari jadi kabupaten yang terbentuknya Kabupaten Pandeglang, maka hal itulah yang membuat penulis Bambang merasa kurang tepat,” katanya. (*)
Reporter: Purnama Irawan
Editor: Agung S Pambudi











