SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Festival Budaya Tanara yang menonjolkan kesenian tradisional, terutama pencak silat, diapresiasi oleh sivitas akademika Universitas Gadjah Mada (UGM).
Hal tersebut diungkapkan Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Wening Udasmoro, saat memberikan sambutan dalam acara Festival Budaya Tanara di Taman Baru Alquran di Desa Tanara, Kecamatan Tanara, Kabupaten Serang, Kamis, 3 Agustus 2023.
Wening mengatakan, berdasarkan hasil penelitian yang sudah dilakukan, banyak perguruan pencak silat yang usianya sangat tua berada di Banten.
Dari nilai historis tersebut, tentunya tepat apabila Pemerintah Provinsi Banten, khususnya Pemkab Serang, apabila ingin mengangkat pencak silat.
“Jadi Banten ini sebetulnya adalah salah satu sumber ilmu pencak silat yang tersebar di berbagai perguruan di Indonesia ya. Jadi bapak/ibu bisa bangga karena sumber ilmu pengetahuan pencak silat itu tidak hanya berada di Sumatera tapi sebetulnya di Banten itu kuat sekali terutama adalah ilmu kanuragannya,” katanya.
Ia menilai jika saat ini merupakan waktu yang tepat untuk mengangkat pencak silat sebagai local wisdom dari Kabupaten Serang sehingga membuat pencak silat dapat terus berkembang.
“Sekarang saat yang sangat tepat dan saya kira mungkin di Indonesia ini baru di kabupaten setang di mana betul-betul digerakkan pencak silat ini sebagai muatan lokal yang kuat,” jelasnya.
Ia pun berharap agar hal serupa dapat ditiru oleh Kabupaten/Kota lain untuk menjadikan budaya setempat sebagai local wisdom agar pelestarian kebudayaan nusantara dapat terus terjaga.
“Daripada meninggalkan pencak silat sebagai budaya Indonesia kemudian mempraktikkan hal yang tidak pasti, mengapa tidak kembali kebudayaan lokal budaya yang jelas-jelas itu menjadi bagian dari hidup kita,” jelasnya.
Ia pun mengapresiasi keputusan Pemkab Serang untuk menjadikan kawasan Tanara sebagai wisata religi dan memilih pencak silat sebagai salah satu atraksi yang dilakukan.
Menurutnya, dua hal tersebut tidak dapat dipisahkan satu sama lain.
Ia menjelaskan jika ke dua hal tersebut sangat erat kaitannya dan merupakan potongan-potongan pazel yang berkesinambungan satu sama lainnya.
“Dalam sejarah Indonesia silat itu berperan di dalam kemerdekaan Indonesia sebelum muncul pemikir-pemikir seperti Soekarno dan lain sebagainya. Saat itu para pendekar sudah maju di depan di dalam melawan para penjajah dan banyak daripada pendekar itu justru guru-guru agama ya dari pesantren-pesantren dan lain sebagainya,” pungkasnya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agus Priwandono











