SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Peneliti Banten Institute for Governance Studies (BIGS), Dr. Harits Hijrah Wicaksana memprediksi bahwa Koalisi Perubahan pengusung pasangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar akan mencair masuk ke tubuh koalisi Pemerintahan Prabowo-Gibran.
Prabowo dan Gibran sendiri telah ditetapkan sebagai pemenang Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dan menjadi Presiden dan Wakil Presiden Indonesia periode 2024-2029.
Namun, tidak semua partai dalam Koalisi Perubahan akan mencair. Harits berpendapat bahwa hanya Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan NasDem yang akan mencair masuk ke dalam koalisi. Sementara, Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akan ditinggalkan di kubu oposisi.
“Kita lihat Prabowo sudah bertemu dan komunikasi langsung dengan PKB dengan Ketua Umum PKB Muhaimin Iskandar. Hal ini
mengisyaratkan akan terjadi masuk koalisi, dan NasDem sekalipun sepertinya prediksi saya akan masuk koalisi,” ujar Harits kepada Radar Banten, Rabu 14 April 2024.
“Jadi dari Koalisi Perubahan dari PKS, NasDem dan PKB dan NasDem akan masuk koalisi,” sambungnya.
Dengan selesainya Pilpres 2024, menyusul keputusan dari Mahkamah Konsititusi (MK), Koalisi Perubahan sendiri sudah dinyatakan bubar. Kini, para elite politik pun tengah membangun komunikasi dengan pemenang Pilpres yakni Prabowo-Gibran.
“Sama untuk sebaliknya, kenapa ? karena memang Pak Prabowo dan Gibran memungkinkan untuk memegang kursi terbanyak di parlemen, dan berbagai program pembangunan yang sudah dicanangkan akan lebih mudah diakselerasikan jika mendapatkan dukungan kebijakan dari politik. Apalagi dengan jargon melanjutkan pembangunan Indonesia maju, melanjutkan pembangunan Presiden Pak Jokowi,” pandangnya.
Sementara, untuk PDIP, kata Harist, saat ini belum mengambil langkah pasca kalah pada pilpres ini. Namun, PDIP memiliki daya tawar yang tinggi untuk menjadi oposisi pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sama dengan PKS, PDIP juga berpotensi akan ditinggalkan menjadi oposisi oleh partai koalisinya yakni PPP, Hanura dan Perindo. Ketiga partai itu disebut akan bermain aman dengan mendukung era pemerintahan karena tidak masuk ke parlemen treshold.
“PDIP saya yakin sedang berhitung apakah mereka akan menjadi opoisis atau masuk koalisi. Tapi kita berharap, PDIP akan mengambil jalur menjadi oposisi sehingga tidak semua masuk koalisi,” kata Harits.
Peran oposisi dirasa penting karena akan menjadi penyeimbang penyelenggaran pemerintahan. Yang mana, partai oposisi akan memainkan peran untuk mengkritik berbagai kebijakan yang dirasa tidak pro terhadap rakyat.
“Kalau semuanya masuk koalisi, nanti siapa yang akan mengontrol jalannya pemerintahan sedangkan kebebasan berpendapat dan sebagainya akan menjadi sangat sulit,” ungkapnya.
Walaupun begitu, dirinya tidak menampik potensi PDIP masuk koalisi menginggat hubungan antara Prabowo dengan Ketua Umum PDIP. Kedua tokoh ini disebut memiliki hubungan yang baik.
“Kemungkinan besar juga Pak Prabowo akan bertemu dengan Ibu Megawati, karena memang dalam hal ini pa Prabowo dan bu Megawati tidak pernah terjadi hal-hal yang terlalu fundamental dalam politik ini,” pungkasnya.
Reporte : Yusuf Permana
Editor: Aditya











