PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID – Badan Penanggulangan Bencana Daerah dan Pemadam Kebakaran (BPBDPK) Kabupaten Pandeglang mencatat sudah terjadi 13 kali gempa bumi susulan yang berpusat di wilayah Kecamatan Sumur, Kabupaten Pandeglang.
Kekuatan gempa susulan bervariasi setelah gempa utama dengan kekuatan awal magnitudo 3,0 sekitar pukul 07.50 WIB, diikuti oleh gempa berkekuatan magnitudo 4,8 dengan rentang waktu yang berbeda-beda.
Sekretaris BPBD-PK Pandeglang, Nana Mulyana mengatakan bahwa terkait gempa bumi ini sudah terjadi beberapa kali dan tercatat 13 kali kejadian gempa yang berpusat di wilayah Sumur.
“Catatan gempa titiknya di Sumur ada 13 kejadian, sejauh ini terpantau belum ada laporan yang terdampak nihil dari kecamatan melalui Pusdalop BPBD Pandeglang,” ungkapnya, Minggu, 28 April 2024.
Ia menyebutkan, terkait gempa bumi yang berpusat di wilayah Kabupaten Garut, Jawa Barat, dengan kekuatan magnitudo 6,5 yang terjadi pada malam hari sekitar pukul 23.29 WIB, BPBDPK Pandeglang tidak dapat memberikan penjelasan karena hal tersebut masuk dalam ranah ahli BMKG.
“Kalau hubungan gempa Garut dan yang di Sumur kami tidak bisa menjelaskan itu sudah masuk ranahnya ahli mungkin bisa ditanya ke BMKG,” katanya.
Pihaknya mengimbau kepada seluruh masyarakat agar selalu tetap tenang dan waspada dari setiap potensi bencana yang ada.
Sementara itu Kepala Stasiun Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Tangerang Suwardi menyampaikan bahwa gempa yang terasa di wilayah Kabupaten Pandeglang tak ada kaitannya dengan gempa yang terjadi di wilayah Garut Jawa Barat.
Kepala Stasiun BMKG Tangerang, Suwardi menjelaskan gempa yang dirasakan di wilayah Kabupaten Pandeglang tidak berkaitan dengan gempa yang terjadi di Garut, Jawa Barat.
“Oh iya kalau itu tidak ada kaitannya dengan gempa di Garut. Karena itu beda gempa di Pandeglang terjadi di Sumur,” jelasnya.
Menurutnya, gempa bumi yang terjadi di wilayah Sumur, Pandeglang, Banten, dipicu oleh pergerakan pertemuan dua lempeng Indo-Australia.
“Itu karena pergerakan dua lempeng yang bertemu di wilayah tersebut menyebabkan seringnya gempa bumi. Kemungkinan terjadi gempa susulan, tetapi tsunami tidak,” ujarnya.
Tambahnya, karena berada di daerah yang rawan gempa, potensi gempa selalu ada. Namun, waktu terjadinya tidak bisa diprediksi, karena gempa sampai saat ini tidak bisa diprediksi.
“Maka penting untuk meningkatkan kesiapsiagaan melalui mitigasi seperti memperhatikan dan memperbarui rambu evakuasi dalam hal terjadi tsunami. Tetaplah tenang dan waspada,” pungkasnya. (*)
Editor: Agus Priwandono











