TANGSEL, RADARBANTEN.CO.ID-Pilkada Banten mulai banyak dikhawatirkan sejumlah pihak mengerucut hanya pada satu calon tunggal dan berpotensi satu calon melawan kotak kosong.
Aliansi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Banten Bersatu mendesak agar Pilkada Banten tidak diikuti hanya satu calon melawan kotak kosong. Jika itu terjadi, maka akan mematikan demokrasi di Banten.
“Kami mahasiswa tidak sepakat (dengan kotak kosong-red). Untuk memajukan Banten, harus ada calon-calon lain agar bisa melihat track recordnya,” ujar ketua Aliansi BEM Banten Abdul Aziz, di Tangsel, Rabu 24 Juli 2024.
Azis mengatakan, ada potensi Pilkada Banten diikuti satu calon melawan kotak kosong. Indikasi itu dapat terlihat dari adanya salah satu calon yakni Andra Soni-Dimyati yang memborong 8 partai, menyisakan sedikit partai. Partai politik dalam Pilkada merupakan tiket dan syarat mutlak seseorang bisa berlaga di Pilkada Banten.
Dilain sisi, menurut Azis tokoh-tokoh yang sejak awal sudah mendeklarasikan dirinya maju di Pilkada Banten saat ini mulai tak terdengar lagi pergerakannya di masyarakat. Hal itu kemungkinan karena pesimisnya tokoh tersebut karena tak memikiki perahu berlaga di Pilkada Banten.
“Sehingga Pilkada Banten berpotensi melawan kotak kosong. Kami mengkritisi hal ini lantaran dapat mematikan demokrasi. Untuk itu kami mendorong ada lebih banyak calon yang berkompetisi dalam Pilkada Banten,” ungkapnya.
Azis tak menampik bahwa peta politik akan terus berubah bahkan diujung akhir Pilkada sekalipun, sehingga ia tak menampik kekhawatiran itu tak terjadi. “Politik itu kan dinamis ya, bisa berubah-berubah, walaupun banyak partai yg bergabung belum tentu bisa dipastikan sah sampai pendaftaran nanti,” terangnya.
Aziz mengatakan, mahasiswa mendorong agar partai yang ada dapat menunculkan calon-calon yang berkualitas. “Sebab, Provinsi Banten memiliki banyak problematika yang perlu dibenahi mulai dari mega korupsi, pengangguran dan kemiskinan,” terangnya.
Aziz mengaku pihaknya akan mengadakan konsolidasi akbar dengan mahasiswa ke tiap wilayah untuk fokus mengawal Pilkada sehingga ada pemimpin lain yang bisa dipilih.
Editor : Merwanda











