LEBAK, RADARBANTEN.CO.ID – Sebanyak 56 mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Multimedia Nusantara (UMN), Jakarta, mengikuti magang di Gugus Mitigasi Lebak Selatan (GMLS).
Puluhan mahasiswa UMN magang ini merupakan kolaborasi UMN dengan GMLS melalui Merdeka Belajar Kampus Merdeka (MBKM) Humanity Project atau proyek kemanusiaan.
“Kegiatan MBKM ini setara dengan 20 SKS atau setara satu semester. Output kegiatan masing-masing mahasiwa adalah skripsi berbasis karya,” kata Sekretaris Kaprodi FIKOM UMN, Irwan Fakhruddin, Senin, 2 September 2024.
MBKM Humanity Project ini, kata dia, merupakan hasil MoU antara GMLS dengan UMN yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2022 dengan tujuan membentuk mahasiswa sebagai agen-agen perubahan pendorong masyarakat untuk lebih siap menghadapi bencana yang akan terjadi.
“Ya, MBKM humanity project ini memang sebagai program magang, dipersiapkan untuk membentuk mahasiswa-mahasiwa yang mempunyai kompetensi sebagai komunikator dalam permasalahan-permasalah di luar permasalah koorporasi. Ini misalkan isu lingkungan, isu sosial, ataupun topik-topik terkait kebencanaan,” katanya.
Menurutnya, dengan program ini mereka belajar bukan hanya pemecah permasalahaan, tapi juga berproses menjadi agen perubahan yang benar-benar menjadi pendorong bagi masyarakat untuk kemudian membangun sebuah masyarakat yang lebih siap menghadapi kemungkinan-kemungkinan bencana yang akan terjadi.
“Membentuk mahasiswa yang memiliki jiwa muda, kompetensi keilmuan, dan minat untuk menjadi prajurit pendamping dalam proyek-proyek kemanusiaan dan pembangunan lainnya baik di Indonesia maupun di luar negeri. Dengan kegiatan ini, perguruan tinggi dapat menyiapkan mahasiswa unggul yang menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dalam melaksanakan tugas berdasarkan agama, moral, dan etika, serta melatih mahasiswa agar memiliki kepekaan sosial untuk menggali dan mengeksplorasi permasalahan yang ada serta turut memberikan solusi sesuai dengan minat dan keahliannya,” katanya.
Ketua GMLS, Abah Lala, mengatakan, MBKM Humanity Project ini merupakan hasil MoU antara GMLS dengan UMN yang sudah dilaksanakan sejak tahun 2022 dengan tujuan memberikan pengetahuan dan pemahaman mengenai mitigasi bencana, tsunami ready, dan community resilience.
“Resiliensi masyarakat merupakan kemampuan masyarakat untuk melakukan penyesuaian diri ketika dihadapkan pada situasi yang tidak diharapkan. Hubungannya dengan kebencanaan adalah apabila terjadi bencana, masyarakat diharapkan memiliki kemampuan untuk kembali pulih secara cepat dari kerusakan yang terjadi akibat bencana tersebut,” jelasnya.
Dia mengatakan, urusan kebencanaan merupakan tanggung jawab semua pihak bukan hanya relawan kebencanaan.
Namun demikian, kata dia, yang tak kalah pentingnya dalam soal kebencanaan adalah bagaimana mitigasi yang dilakukan agar saat bencana datang dapat diantisipasi dan meminimalisir korban.
“Sudah saatnya urusan kebencanaan menjadi urusan bersama, salah satunya adalah dunia akdemisi, perguruan tinggi, mahasiswa yang harus juga ikut memikirkan bagaimana cara metedologis masyarakat Indonesia membangun kesiapsiagaan dan membangun daya resiliensinya menghadapi seluruh potensi bencana yang ada,” ujarnya.
GMLS lahir dari sebuah inisiatif masyarakat yang bertujuan untuk membangun masyarakat Lebak Selatan, yang siaga dan tangguh dalam menghadapi bencana ini dibentuk pada 13 Oktober 2020 terus berkolaborasi dengan 28 kolaborator yang bergerak di berbagai bidang dan telah mewujudkan Tsunami Ready Program di wilayah Lebak Selatan yang diukur melalui 12 tsunami ready indicators
.
GMLS sedang menginisiasi Community Resilience Program di wilayah Lebak Selatan bersama kolaborator dan perguruan tinggi baik dalam negeri maupun luar negeri.
Dengan lergurian dalam negeri selain dengan UMN, GMLS juga kolaborasi dengan Institut Teknologi Bandung (ITB), meliputi pendampingan mitigasi gempa dan tsunami megathrust berbasis masyarakat untuk mencapai UNESCO-IOC Tsunami Ready.
“GMLS juga telah mendapatkan apresiasi dan penghargaan dari banyak pihak, di antaranya National Tsunami Ready Board (NTRB) Indonesia dan penganugerahan status Tsunami Ready oleh International Oceanographic Commission UNESCO (IOC-UNESCO),” ujarnya.
Editor: Agus Priwandono











