CILEGON,RADARBANTEN.CO.ID–Sekitar 3.000 buruh dari Kota Cilegon bertolak ke Jakarta untuk mengikuti aksi peringatan Hari Buruh Internasional (May Day) yang dipusatkan di kawasan Monumen Nasional (Monas), Sabtu (3/5). Aksi nasional itu digelar bersamaan dengan kehadiran mantan Presiden Joko Widodo.
Mereka tergabung dalam Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), yang dipimpin langsung oleh Presiden KSPSI, Said Iqbal.
Aksi ini menyoroti sejumlah persoalan ketenagakerjaan, termasuk sistem outsourcing dan pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dinilai merugikan buruh.
“Semua buruh dari Cilegon berangkat ke Jakarta. Tapi, di Cilegon sendiri tetap digelar May Day pada Sabtu, orasi dan aksi damai di halaman Kantor Pemkot Cilegon,” kata Safrudin, mantan Ketua Umum Federasi Baja Cilegon, saat ditemui Radar Banten, Kamis (1/5).
Menurut Safrudin, tuntutan buruh dalam aksi tersebut mengacu pada tujuh poin rekomendasi KSPSI yang disampaikan oleh Said Iqbal. Di antaranya, penghapusan sistem outsourcing yang dianggap merugikan pekerja, dan penolakan terhadap praktik PHK sepihak.
“Yang paling utama itu penghapusan outsourcing. Kemudian, soal PHK semena-mena yang belum diatur tegas dalam undang-undang. Semuanya sudah terangkum dalam kritik terhadap UU Cipta Kerja,” jelasnya.
Selain itu, buruh juga menyoroti keberadaan tenaga kerja asing (TKA) yang dinilai terlalu bebas masuk ke Indonesia, tanpa kejelasan soal kompetensi dan regulasi.
“Kita ingin tahu, apakah mereka punya skill atau hanya tenaga biasa. Ini harus ditata ulang oleh pemerintah,” tegasnya.
Meski menggelar aksi besar di Jakarta, Safrudin memastikan peringatan May Day di Cilegon akan tetap berlangsung damai dan tertib.
“Harapan kita, teman-teman yang ke Jakarta tetap aman, jangan gegabah. Apa yang jadi tuntutan, disampaikan dengan cara yang damai langsung ke presiden,” tutupnya.
Reporter : Adam Fadillah
Editor: Agung S Pambudi











