RADARBANTEN.CO.ID – Bila berada di Kota Serang pada hari Sabtu, maka bisa menghabiskan sore hari untuk mampir ke Gedung Negara Provinsi Banten yang terletak di sebelah Barat Alun-alun Kota Serang.
Belakangan ini, setiap sabtu sore diselenggarakan acara diskusi seputar kebudayaan Banten. Acara tersebut dinamai Sasapton.
Sasapton adalah akronim dari ‘Saresehan Saptuan di Gedong Negara’, merupakan acara diskusi terbuka bagi siapa saja yang tertarik dengan Kebudayaan Banten. menurut penggagasnya, Rohendi yang juga merupakan Jafung Adyatma Kepariwisataan di Dinas Pariwisata Provinsi Banten, Sasapton sejatinya kegiatan berkumpul teman-teman komunitas maupun perseorangan untuk duduk bareng membicarakan kebudayaan Banten.
“Diskusi ini bebas terbuka bagi siapa saja. Undangan diskusi juga kerap kami pergunakan media sosial. Ya bertukar pikiran soal Banten saja. Sabtu ini (10 Mei 2025), tema diskusinya adalah tentang Musik Banten,” kata Rohendi saat dihubungi melalui saluran telepon, Sabtu pagi.
Rohendi menjelaskan pemilihan nama Sasapton juga punya dasar pemikiran historis. Di mana, kata Rohendi, kata Sasapton ditemukan pada naskah Babad Banten. Mengutip Hosen Djayadiningrat, Rohendi mengatakan Sasapton adalah tradisi Sultan Banten yang pada setiap hari Sabtu, keluar Istana Surosowan menuju Alun alun.
“Catatan sejarah menjelaskan saat Sultan keluar Surosowan menuju Alun alun diiringi gamelan Sajati. Sementara sesampai di alun alun, Sultan disambut gamelan Mesapatra,” jelas Rohendi. Catatan sejarah menyebutkan tradisi ini dilakukan Sultan untuk menemui para utusan daerah, semacam bersilaturahi dan bercengkrama. Lalu dilanjutkan dengan memantau para prajurit Kesultanan Banten berlatih memanah, berkuda, dan teknik berperang.
Nah, kata Rohendi, Sasapton saat ini mengambil spirit mengambil spirit sasapton pada masa kesultanan. Maka di Gedung Negara saat ini, lanjutnya, menyimbolkan latihan perang dengan obrolan positif, diskusi kemajuan Banten, mengasah otak, bertukar fikiran dan berbincang para komunitas yang peduli kemajuan Banten, mengenai berbagai hal, demi Banten yang bermartabat dan berbudaya di masa mendatang.
Rohendi menceritakan ide Sasapton berawal dar hasil dari obrolan sambil ngopi bersama Pak Andra Soni (Gubernur Banten) dan Pak Nana Supiana (PLT Sekda Banten) serta beberapa sekan komunitas seperti Mang Ripin (asosiasi Fotografi) , Asep Wahyuningrat (Asosiasi Rudat Banten).
“Pak Gubernur berharap Gedung Negara juga bisa menjadi ruang publik yang bisa menghasilkan ide-ide dan pemikiran baru bagi perkembangan budaya Banten. Lebih kurang, begitu,” kata Rohendi.
Sambutan atas Sasapton, dikatakan Rohendi cukup menggembirakan. Terutama dari komunitas-komunitas yang concern terhadap Kebudayaan Banten. “Hingga Sabtu ini telah dilakukan 2 jilid diskusi dan 2 kali event Budaya. Diskusi Sasapton Jilid 1 dan 2 membahas Baduy Hari ini dan Jelang Seba Baduy, hal ini karena pada Sabtu, 3 Mei 2025 kemarin, ada 1.769 orang masyarakat Baduy melakukan ritual puncak Séba di lokasi yang sama,” jelasnya.
Editor: Abdul Rozak











