SERANG, RADARBANTEN.CO.ID – Forum Pimred Multimedia Indonesia menggelar diskusi nasional di Hotel Aston Serang, membahas peran Danantara dalam percepatan investasi daerah dan strategi menghadapi tantangan ekonomi global.
Forum Pimpinan Redaksi (Pimred) Multimedia Indonesia (FPMI) menggelar diskusi nasional bertajuk “Danantara Solusi Investasi Daerah dan Strategi Menghadapi Badai Global” di Hotel Aston, Kota Serang, Jumat 18 Juli 2025.
Acara ini menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-2 FPMI.
Diskusi ini menghadirkan para akademisi, perwakilan dari Danantara, serta Kejaksaan Agung (Kejagung).
Fokus utama pembahasan adalah membedah peran strategis Danantara—lembaga pengelola aset BUMN yang baru dibentuk pada awal 2025—dalam mempercepat arus investasi ke daerah-daerah dan menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah dinamika global.
Ketua Umum FPMI, Bernadus Wilson Lumi, menjelaskan bahwa diskusi ini menjadi langkah awal untuk membuka tabir tentang Danantara yang selama ini masih belum banyak diketahui publik. Padahal, lembaga ini memiliki peran besar dengan nilai aset kelolaan mencapai Rp320 triliun.
“Danantara ibarat tuan putri yang hanya bisa dipandang dari kejauhan. Forum ini bertujuan agar tuan putri itu turun ke tengah masyarakat, agar kita memahami peran dan strateginya secara lebih konkret,” ujar Wilson dalam sambutannya.
Ia berharap, diskusi ini mampu memberi manfaat luas bagi publik, sekaligus meningkatkan transparansi dan partisipasi dalam pengelolaan investasi negara.
Sementara itu, Direktur Eksekutif Kajian Politik Nasional (KPN), Adib Miftahul, yang turut menjadi narasumber, menilai kehadiran Danantara sebagai sinyal positif bahwa Indonesia memiliki iklim investasi yang sehat dan aman di mata dunia.
“Danantara adalah jawaban Indonesia kepada dunia, bahwa kita serius menciptakan ekosistem investasi yang kuat. Namun, pengelolaannya harus profesional, bebas dari intervensi politik,” tegas Adib.
Ia menambahkan, salah satu tantangan sebelum terbentuknya Danantara adalah kurangnya arah dan integritas dalam pengelolaan investasi BUMN, yang menyebabkan kerugian hingga ratusan triliun rupiah. Karena itu, Danantara diharapkan menjadi solusi yang mampu membawa dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat, terutama di daerah.
Editor: Aas Arbi











