Oleh: Mahdiduri
Catatan #2 Sayembara Logo HUT Banten
PROFESI sebagai desainer grafis, mengantarkan saya pada dunia garis, warna, sebuah dunia simbolik; memvisualkan ide kedalam bentuk grafis. Delapan tahun ini, mengajarkan bagaimana menerima kekalahan sekaligus menahan kesombongan atas sebuah kemenangan. Delapan tahun yang mempertemukan karya saya dengan karya desainer-desainer grafis dunia dalam berbagai kompetisi/kontes/sayembara desain global. Ratusan kontes, ribuan entri (karya yang dilombakan), ratusan entry yang dieliminasi/tidak dipilih, puluhan yang memenangi menjadi pengalaman yang berharga dan mengajarkan karya kreatif selalu memperbarui dirinya sendiri, membentuk mentalitas bersaing yang sehat; siap kalah, siap menang.
Demikian pula ada kalanya saya harus diposisi sebagai juri kontes grafis. Disinilah, pengetahuan,pengalaman dan kejujuran diuji untuk memilih karya grafis yang akan menjadi etalase produk, program kegiatan, lembaga/instansi/perusahaan tanpa dibebani unsur kedekatan, murni mengedepankan nilai yang ingin diusung. Saya bukanlah sesiapa dalam dunia grafis, hanya seorang pekerja grafis yang diharuskan terus belajar. Tetapi setidaknya, pengalaman dalam menggeluti desain grafis selama ini menjadi fondasi bagaimana memberikan perlakuan yang layak kepada karya grafis.
Nilai kebantenan dalam komunikasi visual modern
Nilai Kebantenan selalu menjadi landasan pembangunan infrastruktur, penyusunan progam kegiatan, bahkan kampanye politik. Akademisi, tokoh masyarakat senantiasa dilibatkan untuk menjaga agar nilai kebantenan tidak kebablasan atau bahkan menyesatkan. Nilai kebantenan menjadi kompas penunjuk arah pembangunan daerah. Ini merupakan langkah yang positif, agar nilai kebantenan luas dikenal dan bisa meresap di setiap sendi kehidupan masyarakat.
Komunikasi visual sudah berlaku sejak manusia pertama kali melukis di goa-goa 40 ribu tahun yang lalu, terus berkembang sesuai dengan eranya sampai saat ini. Termasuk di era kesultanan Banten sudah menerapkan konsep ini dalam pengelolaan wilayahnya. Contohnya desain koin kasha bertuliskan “pangeran ratu ing banten” di era sultan maulana Muhammad (1580-1596) sebuah koin berbentuk koin Cina dengan lubang di tengah, berciri khas persegi 6 pada lubang tengahnya (heksagonal). Inskripsi bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa bertuliskan ‘Pangeran ratu”, setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, bertuliskan “Pangeran Ratu Ing Banten”.
Koin kasha Kesultanan Banten abad ke-15 bukan hanya alat tukar, tapi juga media komunikasi visual. Lewat bentuk lingkaran berpusat, aksara arab, dan lubang tengah, koin ini menyampaikan pesan tentang (1) Identitas Banten sebagai pusat perdagangan internasional (2) Keseimbangan kosmologis antara dunia materi dan spiritual (3) Legitimasi otoritas sultan yang berakar pada nilai religius. Dengan begitu, mata uang ini memperlihatkan bagaimana desain sederhana tapi penuh simbol bisa menyampaikan nilai budaya, politik, dan spiritual pada zamannya.
Kita ambil contoh lagi mata Oeang Republik Daerah Banten (URIDAB) pecahan 25 Rupiah, Uang ini dicetak di masa Revolusi Kemerdekaan Indonesia ketika kondisi darurat. Visualnya bukan sekadar hiasan, melainkan sarana komunikasi politik bahwa Republik Indonesia sudah berdaulat dan memiliki legitimasi moneter. Dominasi Warna Merah memberi kesan tegas, berani, semangat perjuangan, serta identik dengan simbol revolusi. Stilasi menara Banten dan mesjidsebagai simbol panduan, harapan, cahaya yang menuntun rakyat dalam perjuangan. Bisa juga menandakan posisi Banten sebagai wilayah maritim strategis.
Uang ini memiliki fungsi komunikasi sebagai Legitimasi Politik, tulisan ”REPUBLIK INDONESIA” di bagian atas menegaskan otoritas negara baru yang sah, meski kondisi darurat.Selain itu, penerbitan uang khusus untuk Banten menunjukkan kemandirian daerah dalam menopang perjuangan nasional. Visual menara dan simbol-simbol budaya mengomunikasikan kedekatan dengan identitas masyarakat setempat.
Secara psikologis & moral, warna merah dan ilustrasi ikonik memberi semangat perjuangan, menyatukan rakyat untuk percaya pada kekuatan Republik. Walau sederhana, elemen ornamen, nomor seri, tanda tangan, dan detail cetak berfungsi mencegah pemalsuan. Jadi, meski sederhana, uang ini berperan ganda: sebagai alat tukar ekonomi sekaligus propaganda visual perjuangan kemerdekaan. Desain Uridab itu menegaskan bahwa masyarakat Banten dimasa itu sudah memiliki kesadaran visual simbolik yang maju dan nilai ini idealnya kita tetap pegang dalam berkomunikasi saat ini. (*)
Penulis adalah Freelance
Graphic Designer











