SERANG, RADARBANTEN.CO.ID — Universitas Bina Bangsa (Uniba) menggelar workshop nasional bertajuk Penguatan Integritas Akademik dan Etika Penggunaan AI di Perguruan Tinggi. Kegiatan ini berlangsung di Auditorium Fikes Kampus 3 Uniba, Senin, 29 Desember 2025, sebagai respons atas pesatnya perkembangan teknologi kecerdasan buatan di dunia pendidikan tinggi.
Workshop tersebut merupakan hasil kolaborasi antara Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dan Anggota Komisi X DPR RI, Furtasan Ali Yusuf. Kegiatan ini diikuti dosen dan akademisi dari berbagai perguruan tinggi di Provinsi Banten.
Melalui forum ini, Uniba membekali peserta dengan pemahaman tentang pentingnya menjaga etika penggunaan kecerdasan buatan serta memperkuat integritas akademik dalam pembelajaran dan penelitian di era digital.
Workshop dibuka dengan keynote speech dari Prof. Furtasan Ali Yusuf. Ia menegaskan bahwa kemajuan teknologi, khususnya AI, harus diimbangi dengan penguatan nilai kejujuran, keadilan, dan tanggung jawab akademik.
“Seiring pesatnya perkembangan AI, kita harus memastikan teknologi ini tidak hanya mempermudah pendidikan, tetapi juga tetap menjaga prinsip integritas dan kejujuran,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan AI dalam penulisan tugas dan riset dapat menjadi pisau bermata dua. Jika digunakan secara tepat, AI mampu mempercepat proses belajar. Namun sebaliknya, penyalahgunaan AI berpotensi memicu plagiarisme dan pelanggaran etika akademik.
Sesi selanjutnya diisi oleh narasumber dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Prof. Hanif Fakhrurroja, bersama dosen profesional Universitas Telkom. Mereka membahas peran AI dan Internet of Things (IoT) dalam riset dan inovasi perguruan tinggi.
Prof. Hanif menekankan pentingnya pendampingan etis bagi peneliti dalam memanfaatkan AI, terutama untuk mencegah manipulasi data, pelanggaran hak cipta, dan plagiarisme.
“AI harus diposisikan sebagai asisten cerdas, bukan pengganti nalar. Integritas akademik menjadi kompas agar pendidikan dan riset bisa melangkah lebih jauh,” tegasnya.
Ia juga menilai tantangan utama bukan terletak pada ketersediaan kebijakan nasional, melainkan pada implementasi dan pembudayaan nilai integritas akademik di lingkungan kampus.
Sementara itu, Wakil Rektor I Uniba, Sigit Aulia, menegaskan bahwa integritas akademik harus menjadi fondasi utama perguruan tinggi dalam menghadapi era revolusi industri 5.0.
“Integritas akademik bukan hanya soal kejujuran karya ilmiah, tetapi juga bagaimana teknologi dimanfaatkan secara bijak dan bertanggung jawab,” ujarnya.
Perspektif mahasiswa turut mewarnai diskusi. Perwakilan mahasiswa Gen Z dari UKM Extama Uniba, Ine Fitrianingsih, menyampaikan bahwa generasi muda terbuka terhadap teknologi, namun tetap menempatkan nilai kejujuran sebagai prinsip utama.
“Kami ingin AI mendukung pembelajaran, bukan menggantikan kreativitas dan usaha individu,” katanya.
Workshop ditutup dengan diskusi panel yang menyepakati perlunya perguruan tinggi mengembangkan kurikulum yang tidak hanya berfokus pada aspek teknis, tetapi juga etika penggunaan teknologi. Forum ini diharapkan menjadi langkah awal penyusunan standar etika penggunaan AI di perguruan tinggi Indonesia.
Editor: Aas Arbi











