SERANG, RADARBANTEN.CO.ID– Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Banten sejak akhir 2025 hingga Januari 2026 menyebabkan kerugian besar bagi sektor pertanian. Sedikitnya 8.108 hektare sawah terendam, dan 532,5 hektare di antaranya mengalami gagal panen atau puso. Akibatnya, petani di Banten diperkirakan merugi lebih dari Rp20 miliar.
Berdasarkan data Dinas Pertanian (Distan) Banten per 19 Januari 2026, banjir tercatat terjadi di enam kabupaten/kota. Dari total lahan terdampak, ratusan hektare tidak dapat diselamatkan karena terendam air dalam waktu lama.
Kabupaten Serang menjadi wilayah dengan dampak terparah. Sebanyak 22 kecamatan terdampak banjir dengan luas lahan terendam mencapai 1.969 hektare, sementara 319 hektare di antaranya mengalami puso.
Koordinator Tanaman Pangan Distan Banten, Dadan Firdaus Setya Permana, menyebut wilayah lain juga mengalami kerusakan signifikan.
“Selanjutnya Kabupaten Lebak sebanyak 211 hektare sawah terdampak, 108 hektare puso. Kabupaten Pandeglang 4.794 hektare terdampak, dan 65 hektare di antaranya puso. Beberapa wilayah saat ini sudah mulai surut,” kata Dadan, Minggu (25/1/2026).
Sementara itu, sebagian besar tanaman padi yang terendam banjir sebenarnya telah mendekati masa panen. Usia tanam padi berkisar 40 hingga 100 hari. Namun, curah hujan yang tinggi membuat sawah berubah menjadi genangan air dan menggagalkan proses panen.
Selain itu, Dadan menjelaskan bahwa secara rata-rata setiap hektare sawah menghasilkan sekitar 6 ton gabah. Dengan harga jual gabah sekitar Rp6.500 per kilogram, nilai produksi mencapai Rp39 juta per hektare. Jika dikalikan dengan luas lahan puso, total kerugian petani diperkirakan melebihi Rp20 miliar.
Reporter: Yusuf Permana
Editor: Aas Arbi











