SERANG,RADARBATEN.CO.ID,- Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Serang menemukan sebanyak 157 kasus suspek atau terduga campak yang tersebar di 29 kecamatan dI kabupaten Serang.
Temuan kasus tersebut membuat Dinkes Kabupaten Serang berencana akan memasifkan upaya pencegahan dengan melakukan imunisasi serentak pencegahan campak yang menyasar pada balita berusia 59 bulan.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kabupaten Serang, Istianah Hariyanti, mengungkapkan telah melakukan rapat bersama Kementerian Kesehatan (Kemenkes), terkait respon atas temuan kasus suspek campak.
Di lapangan, lanjut Istirahat, pihaknya mendapati adanya laporan pasien yang menunjukan gejala penyakit campak mulai dari demam, timbulnya ruam merah, ditambah dengan gejala batuk, pilek, dan sesak napas.
“Untuk penegakan diagnosis campak kita ambil darah dan urinenya, untuk dilakukan pemeriksaan ke laboratorium itu di BPLKM Jakarta. Kalau hasil labnya positif, kita sebut sebagai definitif campak atau kasus terkonfirmasi campak,” katanya, Selasa 10 Maret 2026.
Setelah pengambilan sampel, lanjut Istianah, pihaknya kemudian akan mengirimkan 157 sampel suspek campak ke laboratorium. Dari jumlah tersebut, ada sebanyak 70 sampel yang hasilnya sampai kini belum keluar.
“Tapi kita belum menemukan kasus klaster atau sekelompok, misalnya seluruh anak PAUD terkena campak, Alhamdulillah kita belum ditemukan. Sehingga, saat ini kita belum KLB,” ujarnya.
Sebagai upaya respon cepat mencegah terjadinya Kejadian Luar Biasa (KLB) campak, kata Istianah, pihaknya telah melakukan imunisasi serentak agar anak dapat melengkapi status imunisasinya, yang dimulai sejak Senin 9 Maret sampai Minggu 15 Maret 2026.
Sasarannya yaitu Balita umur sembilan bulan sampai dengan 59 bulan harus diberikan dua kali imunisasi, untuk yang pertama di umur sembilan tahun, selanjutnya jeda sembilan bulan baru bisa langsung melakukan imunisasi keduanya.
“Kita datangi ke desa-desa atau ke rumah-rumah warga, atau bisa juga juga datang ke Posyandu atau Puskesmas. Apabila status imunisasinya lengkap, maka tingkat resiko untuk terkena campak menjadi lebih rendah karena anak sudah memiliki kekebalan tubuh,” ucapnya.
Istianah mengatakan, penyakit campak sangat mudah menular. Ia bisa menular melalui air liur pada saat penderita batuk atau bersin.
Penyakit ini juga dapat mengakibatkan kematian, karena beresiko terjadi komplikasi seperti radang paru-paru, radang otak atau radang selaput otak dan kejang-kejang, komplikasi ini yang sering mengakibatkan kematian.
“Jadi saya mengimbau masyarakat apabila anaknya terkena campak, jangan dulu bolehkan dia untuk main ke luar rumah, karena khawatir akan menularkan ke anak-anak lainnya,” pungkasnya.
Reporter: Ahmad Rizal Ramdhani
Editor: Agung S Pambudi











