SERANG – Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Bengkel Menulis dan Sastra (Belistra) Untirta menggelar seminar bertema Eksistensi Manusia pada Estetika Seni Kontemporer dengan pembicara Aminudin TH Siregar. Dalam kegiatan ini, pembicara mengungkapkan bagaimana gerakan seni kontemporer semakin atraktif dan mengikis anggapan bahwa karya seni lahir sebagai buah dari inspirasi atau wahyu.
“Seni kontemporer cenderung menghindari pusat yang membuat legitimasi seni dengan rumusan-rumusan ajeg. Makanya pameran-pameran seni rupa sudah tidak lagi menggunakan galeri yang megah dan mewah. Seni kontemporer menggunakan media yang lebih variatif dan tempat-tempat menjauhi pusat agenda kesenian,” ungkap pria yang akrab disapa Ucok di Auditorium Untirta, Senin (8/12/2014).
Pada sisi yang lain, kata Aminudin, seni kontemporer semakin kuat terjebak pada logika pasar. Seni kontemporer bernilai salah satunya dirumuskan oleh pasar yang semakin kuat merumuskan bagaimana seni diberi harga dengan ukuran angka. “Nanti itu ada cara melihatnya sendiri. Karena pasar punya sistemnya sendiri. Bagaimana seni mendapat nilainya melalui kritikus, kurator dan pasar seni,” jelasnya.
Selanjutnya, Ucok juga melihat seni kontemporer kuat dengan gerakan lokalitas. Ini karena gerakan seni kontemporer menghindari pusat-pusat kesenian yang mapan. “Seni kontemporer juga dapat kembali menggunakan ekspresi lokal untuk menghindari pusat bahkan meminjam bagian-bagian kebudayaan populer,” pungkasnya. (Wahyudin)








