RANGKASBITUNG – Banjir memutuskan Jembatan Balida pada Sabtu (30/4) sekira pukul 22.00 WIB. Tidak ada korban pada kejadian ini. Jembatan tersebut menghubungkan Kampung Rangkasbitung Girang di Kelurahan Rangkasbitung Barat dengan Kampung Balida di Desa Rangkasbitung Timur, Kecamatan Rangkasbitung.
Pantauan Harian Radar Banten, Senin (2/5), salah satu ujung jembatan besi sepanjang 30 meter itu terangkat. Kondisinya sudah rapuh. Kerusakan ini terjadi karena fondasi jembatan runtuh ke dasar anak Sungai Ciberang.
Masyarakat menggunakan rakit sebagai ganti jembatan untuk melalui sungai. Beberapa anak-anak Kampung Rangkasbitung Girang nekat bermain di Jembatan Balida. Tanpa takut, mereka naik ke atas jembatan.
Erwin, warga Kampung Balida, mengatakan bahwa Jembatan Balida dibangun secara swadaya oleh masyarakat. Besi yang digunakan merupakan besi bekas Jembatan Bojong Asem di Kelurahan Rangkasbitung Barat. “Masyarakat tiap hari menggunakan Jembatan Balida, termasuk anak-anak yang mau sekolah ke wilayah kota Rangkasbitung,” kata Erwin.
Untuk melintasi anak Sungai Ciberang, masyarakat harus menuruni tebing sungai sebelum mencapai rakit. “Jembatan Balida tidak hanya digunakan masyarakat dua desa, tapi juga masyarakat dari Kecamatan Kalanganyar dan Sajira,” ungkap Erwin.
Sementara, warga Kampung Rangkasbitung Girang Maesaroh mengaku mendengar suara gemuruh ketika Jembatan Balida terputus. “Padahal, tiap hari, banyak masyarakat yang melintas (Jembatan Balida-red) menggunakan sepeda motor,” jelas wanita yang tinggal sekira 20 meter dari Jembatan Balida.
Dia berharap, Pemkab Lebak segera mengalokasikan anggaran untuk membangun Jembatan Balida. “Supaya aktivitas masyarakat enggak terganggu,” kata Maesaroh.
Kepala Dinas Bina Marga (DBM) Kabupaten Lebak Wawan Kuswanto mengaku belum mendapatkan laporan tentang Jembatan Balida. Untuk itu, staf DBM akan mengecek jembatan penghubung dua kampung di dua kelurahan itu.
Jika Jembatan Balida terputus akibat bencana alam, jelas Wawan, penanganannya bakal menggunakan dana tanggap darurat. Namun jika bukan karena bencana alam, DBM baru bisa mengalokasikan pembangunan jembatan itu pada 2017.
“Jembatan tersebut berada di jalan poros kecamatan. Pemerintah desa dan kelurahan bisa patungan untuk buat jembatan darurat, sebelum dibangun pemerintah kabupaten,” ungkap Wawan. (Mastur/Radar Banten)









