Jakarta – Pemerintah Indonesia mengancam tidak akan mengirimkan lagi batu bara ke Filipina. Tekanan keras itu seiring dengan penculikan yang terus berulang oleh kelompok penculik di Filipina Selatan. Penghentian pengiriman batu bara jelas akan sangat mempengaruhi pasokan listrik di kawasan tersebut.
Wakil Presiden Jusuf Kalla tidak bisa menyembunyikan kegeramannya atas kasus penculikan warga negara Indonesia (WNI) yang sudah keempat kalinya dalam kurun empat bulan terakhir. Dia menuding Filipina tidak bisa menjaga keamanan perairan yang jadi jalur pengiriman batu bara itu.
”Kita mengatakan kalau anda (Filipina, red) tidak jamin, bagaimana kita kirim barangnya,” ujar JK usai halal bi halal dengan pegawai di Istana Wakil Presiden Jalan Medan Merdeka Selatan, kemarin (12/7).
Selama ini, Filipina Selatan mengandalkan listrik dari pembangkit dengan menggunakan bahan bakar batu bara dan energi panas bumi atau geothermal. Bila Indonesia benar-benar menghentikan pasokan, batu bara pun akan langka. Sehingga akan ada krisis listrik di Filipina Selatan. JK memperingatkan bisa saja rakyat marah atas kekurangan pasokan listrik itu.
”Bayangkan mati lampu di Jakarta atau Surabaya atau di mana, orang pasti akan marah semua,” ujar dia dengan nada tinggi. ”Jadi Filipina punya risiko. Jangan lupa,” imbuhnya.
Seperti diberitakan, penculikan kembali terjadi oleh kelompok bersenjata di Filipina Selatan. Pada 9 Juli lalu, tiga orang WNI diculik saat berlayar di perairan Sabah, Malaysia.
Padahal, tujuh WNI lain yang diculik di perairan Sulu, barat Daya Filipina masih belum berhasil dibebaskan. Sebelum dua kejadian itu, ada dua penyanderaan lain yang menimpa 10 anak buah kapal Brahma 12 pada 20 Maret dan empat ABK pada pertengahan April lalu. (JP/RBOnline)









