HARI itu adalah hari yang sial bagi Rojak (45), bukan nama sebenarnya. Ia mendapati sang isteri Marni (35), nama samaran, tengah dimarahi saudara-saudaranya karena ketahuan mengambil kerudung di rumah Mumu, nama samaran kakak Rojak. Rojak yang hidup mewah berkat warisan peninggalan kedua orangtua, seakan menjadi penyelamat bagi Marni yang terlahir sebagai orang miskin.
Rojak dan Marni dikaruniai empat anak. Semakin lama pernikahan bukannya semakin mesra, hubungan kedua pasutri itu malah semakin retak. Rumah Rojak yang saling berdekatan dengan rumah adik dan kakak-kakaknya, menjadi awal sumber permasalahan bagi keluarga yang sudah bertahan dua puluh tahun tersebut.
Rojak yang sehari-hari bekerja sebagai pegawai pabrik gas elpiji kerap pulang menjelang senja, seharian tak ditemani sang suami membuat Marni gelap mata. Bukan lantaran Marni tak bahagia, tetapi sifat keserakahan terhadap suatu benda atau barang milik keluarga besar Rojak yang membuatnya masuk ke dalam lubang kehancuran.
“Jak, istri kamu tuh, masa seprai baru punya teteh dijual ke tetangga. Nasihati dong, Jak, jangan suka mengambil barang punya teteh, ini sudah berkali-kali, Jak, dia mencuri!” curhat Mumu (48) tentang kejadian saat itu.
Rojak yang baru pulang bekerja sore itu naik pitam, dibantingnya pintu kamar dan mendapati Marni sedang menghitung uang sambil duduk di atas kasur. “Buat apa kamu ambil barang-barang tetehku? Apa selama ini uang pemberianku masih kurang, hah? Aku malu Marni, malu!” begitu kata Jak seperti yang diungkap Mumu.
Saat itu kata Mumu, Marni malah beralibi. “Ya nggak cukuplah, aku kan pengen beli bedak, make-up, blush on, dan macem-macem, makanya kasih aku uang yang banyak, Mas!” begitu balas Marni.
Hari itu Rojak dan Marni bertengkar hebat. Anak mereka yang pertama dan kedua sudah berumah tangga, sedangkan yang ketiga masih sekolah SMA dan yang keempat masih sekolah kelas V SD.
Keluarga besar Rojak memiliki perekonomian yang bagus, berbeda dengan saudara-saudara Marni, semua kakak-kakaknya adalah orang tak mampu. Ada bisik-bisik tetangga yang mengatakan, Marni selalu dihasut kakaknya untuk mengambil barang-barang milik keluarga Rojak. Barang curian tersebut kemudian dijual dan hasilnya dibagi rata.
Sebagai seorang suami, Rojak tak menaruh curiga berlebih kepada istrinya. Hari-hari dilalui tanpa ada kendala. Namun sayang, untuk kesekian kalinya, hal yang sama terulang lagi. Kali ini mukena yang baru dibeli Siti (34) adik Rojak yang dijual Marni kepada pedagang di pasar. Pedagang itu menanyakan kepada Siti terkait barang tersebut karena Siti membeli mukena itu padanya.
Dari situlah, lama-kelamaan Rojak tidak tahan hati dengan kelakuan istrinya, banyak omongan-omongan miring mengenai Marni. Pertengkaran hebat tak dapat dihindari, kali ini sebuah kata cerai pun terlontar dari mulut pria yang nampak lelah lantaran baru pulang bekerja tersebut. Airmata Marni pun tak sanggup membendung kesedihan. Keesokan harinya, Marni mengemasi barang-barangnya dari rumah yang sudah puluhan tahun ditinggali bersama Rojak.
Mengarungi sebuah bahtera rumah tangga bukan merupakan hal mudah, seperti apa yang dialami Rojak, kisah asmaranya bersama Marni akhirnya harus kandas di tengah jalan. Anak-anak yang masih memerlukan biaya sekolah tinggal bersama Rojak. Sedangkan Marni kini tinggal di rumah kakaknya. Selang beberapa bulan kemudian, karena tak tahan menanggung beban hidup yang semakin mencekik, Marni memutuskan untuk pergi ke Arab Saudi, bekerja sebagai TKI.
Hari demi hari dilalui Rojak tak secerah dulu, kesendirian membuatnya semakin larut dalam keterpurukan. Perlahan semangat hidupnya semakin meredup, hingga perusahaan tempat ia bekerja pun tak mau lagi menerimanya karena sudah tidak seproduktif dahulu. Yang dilakukannya hanya bermalas-malasan saat bekerja.
Hidup sebagai seorang pengangguran membuat Rojak semakin tak karuan, setiap malam yang dilakukan hanya berjudi dan mabuk-mabukan. Frustasi yang dialami semakin tak menentu, barang-barang elektronik yang dimilikinya sedikit demi sedikit terkuras untuk menutupi hutang-hutangnya karena kalah berjudi. Sadar akan keterpurukan yang ia alami, Rojak pun kemudian mencoba bekerja sebagai operator TKW bersama seorang teman di Jakarta. Namun nahas, berharap bisa memperbaiki hidupnya, nasib sial kembali menimpanya. Satu minggu bekerja, Rojak harus mendekam di penjara karena ia berkerjasama dengan lembaga illegal alias penipu.
Akhirnya, warisan berupa tanah seluas tiga hektar dijualnya untuk menebus kebebasan dirinya dari bui. Kini kehidupan Rojak pun semakin tak menentu, seorang pria yang masih harus mengurus kedua anaknya, menjalani hidup bagaikan buih di tengah lautan. Dua tahun kemudian, menjelang tengah malam, Tuhan nampaknya mengerti dengan apa yang diinginkan Rojak saat ini, seorang wanita yang dahulu pernah menghiasi hidupnya berdiri tepat di depan rumah, membawa mawar yang sebentar lagi akan mekar. (Haidaroh-PPL/Radar Banten)









