CILEGON – Ribuan guru honorer madrasah di Kota Cilegon sampai sekarang belum menerima honor daerah (honda). Padahal, seharusnya mereka mendapatkan honor setiap tiga bulan sekali. Namun, pada tahun ini honor tersebut belum juga cair.
Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Cilegon mencatat, jumlah guru honorer yang menerima honor tahun ini sebanyak 4.707 orang. Jumlah itu terdiri atas guru raudatul athfal (RA), madrasah ibtidaiyah (MI), madrasah tsanawiyah (MTs), madrasah aliyah (MA), madrasah dinayah takmiliyah awaliyah (MDTA), serta taman kanak-kanak alquran (TKQ)/taman pendidikan alquran (TPQ). Selain itu, ada juga honor guru mengaji di masjid, dan guru mengaji di lingkungan.
Kasubag Bina Keagamaan dan Bimbingan Mental (Bintal) Bagian Bintal dan Keagamaan Setda Kota Cilegon Rahmatullah mengatakan, sampai sekarang pihaknya belum menerima pengajuan dari Kemenag siapa saja yang akan menerima honor tersebut. “Tapi, sesuai dengan jadwal seharusnya Juni sudah bisa dicairkan,” kata Rahmatullah kepada Radar Banten, Selasa (30/5), di ruang kerjanya.
Rahmatullah mengatakan, mekanisme pencairan honor daerah sudah mengalami perubahan dibandingkan sebelumnya. Biasanya Bagian Kesra Setda Pemkot Cilegon yang mengurus. Namun, sejak tahun lalu diserahkan ke Kemenag. “Sekarang kita hanya menjadi perantara saja. Jadi, Kemenag mengajukan proposalnya kepada kami, setelah kami menyampaikan ke BPKAD (Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah). Nanti BPKAD yang mencairkan,” ujar Rahmatullah.
Ditemui di kantornya Kepala Seksi (Kasi) Pendidikan Agama dan Keagamaan Islam (Pakis) Kantor Kemenag Cilegon Abu Nasor berjanji, honor guru madrasah dan guru mengaji sudah bisa ditransfer melalui rekening masing-masing pada Juni nanti. “Ya, mudah-mudahan sebelum Lebaran sudah cair,” harap Nasor.
Menurutnya, jumlah data guru honorer di bawah naungan Kemenag yang mendapatkan honor daerah tidak mengalami penambahan kuota. Jumlahnya masih tetap sama seperti tahun lalu. “Cuma nilai honornya yang berbeda-beda antara satu dengan lainnya,” ujar Nasor.
Namun, Nasor membantah pernyataan Rahmatullah yang menyatakan, pihaknya belum menyampaikan pengajuan anggaran untuk honor para guru tersebut. “Sudah kita ajukan tahun lalu. Kan setiap program kerja tahun yang akan datang diajukannya tahun sebelumnya. Jadi, tidak benar kalau kami belum mengajukan,” bantahnya sambil menujukan proposalnya kepada Radar Banten.
Dia meminta para penerima honor agar sedikit bersabar sebab sekarang ada perubahan mekanisme pencairan honor. “Sekarang yang mengajukannya Kemenag, tapi anggarannya dari APBD Cilegon maka nomor rekening harus berbeda. Ini juga harus menunggu NPHD (nota persetujuan hibah daerah). Setelah kita mendapatkan NPHD, kita akan mendapatkan nomor rekening dari Kementerian Keuangan,” ujar Nasor.
Menurut Nasor, pencairan honor guru madrasah yang sekarang memang tidak dicairkan per tiga bulan sekali, tetapi dicairkan per semester atau enam bulan sekali. “Karena aturannya baru, ya kita cairkan per enam bulan sekali. Jadi, ini bukan terlambat,” imbuhnya.
Sementara itu, Kepala Kemenag Cilegon Mahmudi juga mengimbau guru madrasah untuk bersabar. Dia menjamin pencairan honor tidak akan lama lagi sebab tinggal menunggu nomor rekening dari Kemenkeu. “Berdasarkan mekanisme yang baru, harus begitu. Apalagi, ini anggarannya dari daerah bukan dari Kemenag pusat,” imbuhnya.
Fathurrohman, guru honorer MTs dan MD di Rawaarum, Kecamatan Grogol, mengaku harus mencari kegiatan lain agar kebutuhan rumah tangga tetap berjalan. “Untungnya, kami tidak hanya mengandalkan penghasilan dari honor daerah,” ungkapnya.
Meski begitu, dia berharap agar honor daerah tersebut bisa secepatnya diterima oleh semua guru honorer. “Ini lantaran menyangkut kebutuhan orang banyak. Mudah-mudahan Juni nanti benar-benar bisa cair,” harapnya. (Umam/Radar Banten)










