“Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu, agar kamu bertakwa” (QS. Al-Baqarah:183).
Jika menilik sejenak akan realitas kondisi keber-agama-an kita mengalami lonjakan drastis luar bisa di bulan Ramadhan ini. “Tuhan” bisa kita temukan dimana-mana, bahkan produk-produk kapital ikut berkompetensi mencitrakan dirinya sebagai “ikon religiusitas”. Sedangkan bagi media massa, puasa dianggap religius hanya dengan menayangkan sinetron berbau agama, kuis ramadhan, dan tayangan infotainment yang mengangkat profil para pesohor di negeri ini yang dikemas dengan label “islami”.
Fenomena demikian lahir karena kurangnya nilai-nilai pemaknaan dan distorsi penghayatan empirisme keber-agama-an kita. Budaya populer sudah menjangkit di lini kehidupan. Budaya populer lebih menekankan pada “image” dan bentuk artifisial lainnya. Logika praksis yang formalistik semacam ini hanya menjadikan umat berpikiran instan, bahkan dangkal (sathihi). Tak heran apabila Ramadhan acapkali menjadi ajang komodifikasi yang sangat laku untuk dijual di pasaran.
Untuk itu dimensi teologis ibadah puasa harus ditransformasikan ke dalam dimensi sosiologis, agar kebahagiaan religius dapat dirasakan, baik secara etik maupun secara moral. Dalam istilah Muslim Abdurrahman disebut “Teologi Transformatif”, yaitu menekankan hubungan dialogis antara teks dengan konteks yang bertujuan untuk menghidupkan teks dalam realitas-empiris dan mengubah keadaan masyarakat ke arah transformasi sosial yang diridhoi Tuhan. Puasa mestinya tidak hanya ditafsirkan sekedar ritual an sich yang terpisah pada aspek sosial, politik, ekonomi, dan budaya. Artinya pengertian puasa harus ditarik pemaknaanya terhadap kehidupan berbangsa-bernegara. Dengan demikian, puasa adalah perisai sekaligus senjata dalam melakukan spirit perubahan diri (spirit of self transformation) dan modal perubahan sosial (modal of social transformation) untuk perjuangan keadilan, kemanusiaan, kerahmatan, keberkahan, dan kemaslahatan yang menjadi tujuan dasar syariat agama (maqashid asy-syari’ah).
Transendensi
Misi transendensi puasa lebih bersifat vertikal, yaitu misi membangun harapan bagi tumbuhnya kesadaran rububiyah manusia yang mencerahkan, mengayomi, dan mendidik. Realitas kehidupan di era modern telah melahirkan “Tuhan-Tuhan baru” seperti penghambaan terhadap profesi, jabatan, dan gila fashion yang berujung pada penuhanan materi dan prestise hidup sebagai tujuan.
Puasa yang telah sekian tahun kita lakukan tidak menjadi garansi terwujudnya ruang publik yang bebas dari sikap rakus dan tamak. Ayat-ayat Tuhan bukan hanya diperjual belikan makna dan tafsirnya demi nafsu sesaat seperti kekuasaan politik jangka pendek. Ironis dan lebih kacauanya Al-qur’an yang diturunkan pada bulan Ramadhan pun tak luput dikorupsi. Ujaran kebencian (hate speach) yang menghiasi time line media sosial telah merontokan sendi-sendi kepatutan. Atas nama kebebasan berpendapat (freedom of speach) orang tak bisa lagi membedakan mana kritik mana hujatan.
Padahal, secara gamblang Imam al-Ghazali menuturkan sebagai seorang Muslim, kita dididik untuk memiliki kompetensi transformasi spiritual dari manusia yang berwatak sebagai “budak hawa nafsu” menjadi hamba Allah SWT yang “menyucikan” dirinya. Dengan kata lain, bahwa puasa Ramadhan merupakan wujud character building ketaqwaan yang bertugas melestarikan kehidupan umat manusia.
Spirit ilahiyah (transenden) puasa lebih menekankan tentang peningkatan kualitas diri, hal ini jauh hari telah digariskan oleh Allah SWT dengan turunnya ayat pertama Al-Quran. Iqra’ ! (bacalah) adalah perintah langsung dari Allah SWT berbentuk fi’il amr (kata kerja perintah) untuk membaca dan terus membaca alam semesta. Maknanya, kita diperintahkan untuk menggunakan segenap potensi manusiawi, agar kita terus membaca anugrah dan karya agung Tuhan. Sebuah kecerdasan yang mampu menghadirkan kesadaran kemanusiaan sebagai hamba yang lemah (dhaif), namun memiliki kekuatan intrinsik untuk menegakkan kebenaran dan keadilan bagi kelestarian umat manusia di muka bumi.
Humanisasi
Islam bukan hanya sekedar ajaran langit, tapi ajaran bumi yang mampu membebaskan manusia dari ketidakadilan, ketertindasan, dan eksploitasi yang dilakukan para pengausa dzolim, orang kaya yang menindas, dan orang pintar yang menjilat. Prilaku korupsi adalah wujud nyata ketidak pedulian pada sesama. Korupsi adalah simbol kebinatangan yang menggelayuti alam pikiran bangsa Indonesia. Individu-individu semacam itu berlomba menggemukan badan sendiri, menimbun lemak akumulasi kekayaan pribadi dan kroninya. Sementara si miskin hidup meronta dan menjulurkan tangan meminta bantuan, sementara si kaya masih sibuk mengurusi istana megahnya. Padahal Tuhan tidak hanya hadir di masjid-masjid dan istana para raja. Tapi Tuhan bisa hadir di gubuk si Miskin.
Misi humanisasi puasa lebih menekankan pada aspek sosial (horizontal), dengan begitu puasa Ramadhan menekankan pentingnya kesalehan sosial. Secara sederhana kesalehan sosial dimaknai sebagai keperdulian dan sikap empati terhadap keadaan sekitar. Selama ini kesalehan hanya dilihat dengan atribut, simbol, pakaian dan acara ritual keagamaan semata, padahal masih ada banyak aspek agama yang lebih penting dan luas. Puasa menjadi medium terbaik untuk kembali memanusiakan kita, memanusiakan relasi sosial, dan memanusiakan tatanan sosial yang kaku dan parsial. Islam adalah ajaran keadilan, dan ajaran pembebasan yang berpihak kepada mereka yang tertindas (mustadz’afin dan madhlumin). Dengan demikian, puasa memberi kita kesempatan (chance) untuk meningkatkan martabat kemanusiaan kita, baik di hadapan diri kita sendiri, maupun di hadapan Tuhan.
Selama berpuasa, kita dilarang untuk makan dan minum di pagi hari sampai waktunya berbuka. Hal tersebut bertujuan membentuk sikap mental dan kepekaan terhadap sisi lain kehidupan sosial kita dalam bermasyarakat. Yang tidak sekedar membenahi diri dari sifat-sifat tercela sesama manusia, akan tetapi juga bisa saling menghargai dan menghormati serta mampu menumbuhkan rasa empati pada orang lain. Sehingga, mental individualis yang hinggap dalam pribadi seseorang dapat berubah menuju pribadi-pribadi yang berjiwa sosial. Contoh konkret aspek humanisme puasa Ramadhan yaitu diwajibkannya menunaikan zakat fitrah. Esensi zakat fitrah pada bulan Ramadhan adalah menekankan kepedulian sosial, perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusiaan , keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, dan pengikat persatuan umat dan bangsa.
Puasa Ramadan adalah ibadah yang istimewa, itu karena dinilai langsung oleh Allah SWT. Maka kiranya puasa kita jadikan sebagai pijakan untuk membangun masyarakat beradab dan mampu menciptakan perubahan di tengah masyarakat. Oleh karena itu, puasa transformatif merupakan puasa yang akan berdampak pada perubahan peradaban manusia. Dengan demikian, puasa sejatinya adalah proses transformasi mental-spiritual dari watak kebinatangan dan kesetanan menuju watak kemanusiaan dan ketuhanan yang lebih baik. Inilah hakikat puasa transformatif. Jika seorang muslim tidak mampu melakukan transformasi diri menuju perbaikan moral, berarti ia gagal dalam berpuasa. Semoga rutinitas amalan-amalan kita selama bulan Ramadhan ini tidak hanya ajang pertaubatan semantara, tetapi berlaku kontinyu dalam kehidupan sehari-hari agar kita mampu menyandang gelar muttaqin dalam arti yang sebenarnya. Aamiin. Selamat menunanaikan ibadah puasa.
Ahmad Bachtiar Faqihuddin, Kurator Ngaos Buku Rafe’i Ali Institute











