SERANG – Sejak dibuat pada 1995, tumpukan sampah di TPSA Cilowong, Kelurahan Cilowong, Kecamatan Taktakan, semakin menggunung. Diperkirakan, tumpukan sampah mencapai 2,3 juta meter kubik. Tumpukan sampah semakin menggunung karena hingga kini belum ada pengolahan sampah di TPSA Cilowong.
Asda II Pemkot Serang Moch Poppy Nopriadi mengungkapkan, ada investor dari Jepang yang ingin mengolah sampah TPSA Cilowong. “Tapi masih penjajakan,” ujar Poppy, Jumat (19/1).
Selain Jepang, ia mengungkapkan, ada beberapa investor lainnya yang juga melirik TPSA Cilowong. Namun, hingga saat ini belum ada yang deal. Bahkan, yang paling terakhir, investor Korea yang menawarkan teknologi mengubah sampah menjadi energi sudah memboyong sejumlah petinggi Pemkot Serang untuk melihat teknologi mereka di Korea. Namun, hingga kini kerja sama itu tidak dilanjutkan ke tahap yang lebih serius.
Poppy mengaku tidak tahu alasan apa yang membuat para investor itu tak melanjutkan kerja sama dengan Pemkot untuk mengolah sampah di Cilowong. “Bahkan, hitung-hitungan royalti juga belum,” tandasnya.
Pengelola TPSA Cilowong Muhalimin mengaku sudah ada empat investor asing yang tertarik mengolah sampah yang ada di TPSA Cilowong. Keempatnya berasal dari Australia, Malaysia, Korea Selatan, dan saat ini Jepang.
Ia mengungkapkan, berdasarkan kunjungan investor Jepang ke Kota Serang beberapa waktu lalu, mereka menyiapkan sepuluh mesin untuk mengolah sampah yang sudah ada menjadi biosolar. “Tapi, mereka juga butuh tambahan lahan. Nah, itu yang jadi pertimbangan. Kalau Pemkot yang diminta pembebasan lahan, tentu saja berat,” ujarnya.
Kata dia, apabila pengolahan sampah oleh investor Jepang itu tak jadi, hal ini menjadi pekerjaan rumah yang berat bagi Pemkot. Apalagi, usia TPSA itu tinggal dua tahun lagi.
Solusinya, kata Muhalimin, Pemkot membebaskan lahan sekira lima sampai sepuluh hektare lagi. Soalnya, lahan yang masih ada saat ini terlalu dekat dengan permukiman warga. “Atau ketika Bojongmeteng sudah jadi maka pembuangan sampah dapat dilakukan ke sana. Hanya saja, biaya operasionalnya tinggi,” ungkapnya.
Selama ini sampah dari Kota Serang yang masuk ke TPSA sebanyak 700 meter kubik per hari. Sementara, dari Kabupaten Serang 200 meter kubik. “Ini akan terus-menerus menggunung dan harus dicarikan solusinya,” ujar Muhalimin. (Rostinah/RBG)











