CILEGON – Perbaikan tahap kedua Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang ambrol akibat banjir awal tahun lalu tidak kunjung dimulai. Padahal, rencananya perbaikan dengan metode pengecoran itu dilakukan setelah Idul Fitri. Namun, hingga tiga bulan berlalu, perbaikan yang menjadi tanggung jawab industri itu tidak kunjung dimulai.
Pantauan Radar Banten di lokasi, Senin (24/9), kondisi jalan yang terdiri dari material tanah dan batu tampak menghawatirkan. Debu pekat menyeruak ke udara setiap kendaraan baik roda dua, empat, maupun lebih melintas di jalur itu.
Median jalan masih dibiarkan berlubang dengan kedalaman beberapa puluh sentimeter. Permukaan jalan yang berupa urukan sudah bergelombang. Sejumlah pengguna jalan, khususnya roda dua dan kendaraan jenis sedan atau hatchback terlihat berhati-hati, bahkan bagi kendaraan yang cukup rendah berhenti terlebih dahulu sebelum lanjut menyeberang jalan yang berada di lingkungan Temiang, Kecamatan Cibeber, tersebut.
Salah satu pengguna jalan, Ahmad Yuliandi mengungkapkan, kondisi jalan itu sangat membahayakan bagi pengguna sepeda motor. Hal itu mengingat dalam waktu yang bersamaan kerap melintas kendaraan-kendaraan dengan tonase yang sangat besar. “Kalau enggak pakai helm yang bawa motor bisa kena debu itu, terus khawatirnya kepeleset sebab kan tanah campur kerikil,” ujar Yuliandi saat ditemui Radar Banten di salah satu warung tak jauh dari jalan tersebut, Senin (24/9).
Menurutnya, saat musim hujan, jalan itu lebih menghawatirkan karena tanah lebih mendominasi daripada kerikil. “Yang bahayanya itu yang tengah sama sampingnya itu, dalam banget, kepeleset mah nyungsep ke situ, bahaya,” ujarnya.
Menanggapi kondisi JLS yang berada di atas Sungai Temiang itu, anggota Komisi I DPRD Kota Cilegon Aam Amrulloh saat dikonfirmasi mengungkapkan, akan melakukan rapat internal di Komisi I terlebih dahulu sebelum melibatkan pihak lain. Aam pun membenarkan, seharusnya perbaikan tahap kedua jalan sudah dimulai setelah Idul Fitri lalu.
“Tapi, sampai saat ini belum juga dimulai, makanya kita bahas internal itu, nanti kita panggil Dinas Pekerjaan Umum, kenapa sampai sekarang belum dimulai perbaikannya,” ujar Aam.
Aam menilai kondisi JLS saat ini rentan menyebabkan kecelakaan. Pemerintah perlu segera menyikapi persoalan tersebut sebelum ada korban jiwa. “Memang seharusnya segera dimulai perbaikannya,” ujarnya.
Untuk diketahui, akibat hujan deras pada 25 April 2018 lalu, JLS mengalami ambrol hingga terputus akibat banjir. Jalan yang ambrol itu tepat berada di atas Sungai Temiang yang disebut-sebut hulunya berada di Kecamatan Mancak, Kabupaten Serang.
Setelah terjadinya bencana itu, Pemkot Cilegon melakukan pertemuan bersama industri dan hasilnya disepakati perbaikan tahap pertama menjadi tanggung jawab Pemkot Cilegon dan selesai sebelum arus mudik dimulai. Perbaikan tahap kedua dengan cara dibeton menjadi tanggung jawab industri dan itu dilakukan setelah Idul Fitri.
Mengenai belum dimulainya perbaikan tahap kedua, Koordinator Industri Malim Hander Joni belum bisa berkomentar. Menurutnya, kebutuhan untuk perbaikan tahap kedua perlu menunjuk satu kontraktor untuk melakukannya. “Rencananya yang melakukan tahap awal itu (CV Pusaka Ibu), kemarin sudah ada pertemuan, tapi saya tidak bisa hadir,” ujarnya. (Bayu M/RBG)











