SERANG – Warga Ciracas, Lingkar Selatan, Kota Serang, kembali mengeluhkan keberadaan kendaraan overtonase atau tronton yang melintas pagi hingga malam hari di jalur tersebut. Selain membuat jalan rusak, kendaraan overtonase itu juga menyebabkan kemacetan parah.
Pantauan Radar Banten, di sepanjang jalan yang menjadi kewenangan pemerintah pusat tersebut, keberadaan tronton overtonase sangat mudah ditemui. Mulai pagi, siang, sore, hingga malam hari kendaraan overtonase kerap melintas. Sementara di bagian bahu jalan sedang ada pengerjaan saluran air yang membuat lalu lintas semakin macet.
Sembilan bulan lalu, tepatnya pada Minggu (21/1) pihak Satuan Kerja (Satker) Pelaksana Jalan Nasional (PJN) Kementerian PUPR Wilayah Banten bersama dengan Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) pada proyek Bendungan Sindangheula mengalihkan kendaraan overtonase ke jalur Tol Serang Timur, Pakupatan, menuju Palima. Hal itu untuk menghindari kerusakan jalan dan meminimalkan horor macet di jalur Ciracas.
Hilir mudiknya kendaraan overtonase ini menyuplai barang material pembangunan Bendungan Sindangheula, Kabupaten Serang, yang merupakan proyek nasional. Bendungan itu memiliki kapasitas 9,26 juta meter kubik yang diproyeksikan mengairi lahan irigasi seluas 1.000 hektare dan pengendali banjir. Biaya pembangunannya mencapai Rp427 miliar.
Herwan (40), warga Kompleks Taman Puri Indah, Ciracas, Serang, Kota Serang, mengeluhkan kendaraan bermuatan berat melintas di jalur Ciracas. Menurutnya, aktivitas tronton selain membuat jalan cepat rusak, juga membuat kemacetan semakin parah. “Saya harus bangun pagi mengantar anak ke sekolah. Tidak bawa mobil, tapi motor karena macet,” ujarnya kepada Radar Banten saat ditemui di kediamannya, Senin (24/9).
Kata dia, truk overtonase sempat dilarang melewati jalur ini karena menyebabkan jalan cepat rusak. Hal itu sudah berlangsung beberapa bulan. Saat itu tidak ada tronton yang melintas. Namun, sebulan terakhir ini truk kembali beroperasi lagi. “Pagi sampai malam hari. Jalan berdebu karena sedang ada perbaikan saluran air, macet. Kami merasa terganggu,” terangnya.
Herwan berharap, pemerintah kembali harus menertibkan aktivitas tronton tersebut sehingga kendaraan overtonase tidak mengganggu warga. “Harapan kami tentu jalurnya dialihkan. Kan bisa lewat jalur Pakupatan,” katanya.
Hal senada dikatakan Efi Afifi (33), warga Kompleks Griya Ciracas Indah. Ia juga mengeluhkan, kesemrawutan di Jalan Lingkar Selatan karena maraknya tronton. “Debu, padat. Pokoknya semrawut, apalagi di depan pom bensin,” katanya.
Dosen UIN SMH Banten itu berharap, pemerintah mencari jalur alternatif. Menurutnya, pembangunan bendungan baik karena memberikan manfaat bagi masyarakat. Namun, prosesnya tidak semestinya mengganggu aktivitas masyarakat. “Ya, kami terganggu. Harus ada jalan keluarnya,” terangnya.
Saat Radar Banten menghubungi PPK PPN 1 Banten pada Satker PJN Banten Kokoh Sembada, baik melalui sambungan telepon dan pesan singkat WhatsApps tidak ada respons. Hal yang sama saat berusaha menghubungi staf PPK PPN 2 Banten pada Satker PJN Banten I Heri Sutana tidak memberikan jawaban saat berusaha dimintai komentar. “Ya Kang, nanti saya telepon balik,” singkatnya. (Fauzan D/RBG)










