SERANG – Padi yang ditanam di lahan sawah seluas 192 hektare di Kabupaten Serang dipastikan puso atau gagal panen. Lahan tersebar di lima kecamatan dan diperkirakan akan terus bertambah.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Serang Dadang Hermawan mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan dan pendataan terhadap lahan pertanian di Kabupaten Serang selama kamarau. Dadang tidak menyangkal, beberapa lahan pertanian terkena puso. “Ada 192 hektare yang puso (lahan pertanian-red) tersebar di lima kecamatan. Kita sudah salurkan 15 unit mesin pompa untuk membantu petani,” ungkap Dadang kepada wartawan di ruang kerjanya, kantor Dinas Pertanian Kabupaten Serang, Jalan Martadilaga, Kota Serang, Selasa (27/8).
Diungkapkan Dadang, lahan pertanian yang terkena puso terluas berada di Kecamatan Pamarayan seluas 75 hektare. Kendati demikian, menurut Dadang, lahan puso 192 hektare masih jauh di bawah ambang batas penurunan produksi sekira 4.000 hektare yang terkena puso. “Belum sampai berdampak pada penurunan jumlah produksi petani,” tegasnya.
Meski begitu, pihaknya terus berupaya membendung kerugian petani. Dadang mengaku, sudah mengimbau petani agar masuk program Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) dari Kementerian Pertanian (Kementan) Republik Indonesia (RI) agar kerugian petani teratasi. Melalui AUTP, petani yang lahannya terkena puso akan mendapat ganti rugi sebesar Rp6 juta per hektare. Sampai saat ini, kata Dadang, lahan pertanian yang terdaftar program AUTP baru 2.000 hektare. “Optimalnya di angka 15.000 hektare (masuk program AUTP-red) sudah bagus, ini setengahnya aja belum,” keluhnya.
Dadang menjelaskan, lahan pertanian terkena puso akibat kemarau panjang, selain terjadinya penurunan debit air di Bendung Pamarayan yang mengakibatkan sawah tidak teraliri air. “Volume air Bendung Pamarayan sekarang hanya lima meter kubik per detik. Jadi, tidak bisa mendorong air ke seluruh wilayah Kabupaten Serang,” tandasnya.
Sementara Kepala Bidang (Kabid) Penanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana menambahkan, petani yang tidak terdaftar sebagai peserta AUTP tidak akan mendapat ganti rugi. Meski begitu, pihaknya akan memberikan bantuan benih padi kepada petani yang lahannya mengalami puso dari APBD Kabupaten Serang. “Semoga itu (bantuan benih padi-red) bisa meringankan sawah yang terkena puso,” harapnya.
Kata Zaldi, pihaknya terus mendorong petani untuk memiliki kemampuan budi daya multikomiditas. Ketika padi sudah tidak bisa ditanam maka petani beralih ke komoditas lain, di antaranya tanaman kacang dan jagung yang membutuhkan sedikit air. “Penyuluhannya akan terus kita tingkatkan,” katanya.
Pantauan Radar Banten di Kampung Dermayon, Desa Pamengkang, Kecamatan Kramatwatu tampak sejumlah petani sibuk memanen padi di sawah.
Salah seorang petani, Sayid mengeluhkan hasil panen tahun ini yang mengalami penurunan akibat minim air di saluran irigasi. Lantaran itu, ia terpaksa memanen padinya lebih awal. “Sawah saya dua hektare, tapi cuma bisa dipanen 30 persen doang,” keluhnya. (mg06/zai/ags)









