SERANG – Ratu Tatu Chasanah akan mendaftarkan diri di penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati Serang di Partai Gerindra. Bupati Serang itu berharap mendapatkan dukungan dari partai besutan Prabowo Subianto. Tatu mengaku sudah dapat informasi penjaringan dari Ketua DPD Partai Gerindra Banten Desmon J Mahesa. “Iya Pak Desmon sudah menyampaikan ke saya kalau penjaringan mau dibuka, saya sampaikan mau daftar,” kata Tatu saat ditemui di Kecamatan Baros, Jumat (25/10).
Tatu mengaku sudah mengutus timnya untuk mengambil formulir pendaftaran di Gerindra. Kemudian, ia akan mengembalikan formulir secara langsung. “Hari ini (kemarin-red) tim akan mengambil formulir,” ujarnya.
Dengan mendaftarkan diri di Gerindra, Tatu berharap mendapatkan dukungan dari partai berlambang kepala Garuda itu. “Pasti dong, saya berharap dapat dukungan untuk pilkada,” ucapnya.
Gerindra sudah membuka penjaringan bakal calon bupati dan wakil bupati sejak Kamis (24/10). Penjaringan itu untuk menentukan siapa yang akan diusung pada pilkada serentak 2020 di Kabupaten Serang, Cilegon, Tangsel, dan Kabupaten Pandeglang.
Sementara itu pengamat politik STISIP Setia Budhi Rangkasbitung Harits Hijrah Wicaksana menilai, Gerindra sebagai pemenang Pemilu 2019 di Banten memahami momentum politik 2020. Dengan mengusung tema melawan petahana dan memajukan kader-kader Gerindra dalam kontestasi pilkada, menjadi alasan yang logis sebagai partai yang memiliki kursi paling banyak di DPRD. Tentunya ini merupakan kalkulasi politik Gerindra.
“Namun dengan tetap membuka diri berkoalisi dengan partai-partai lain, termasuk dengan Golkar dan Demokrat selaku parpol tempat bernaungnya para petahana, artinya di sini Gerindra menghitung kalkulasi dalam pilkada 2020,” kata Harits kepada Radar Banten, kemarin.
Ia menilai, koalisi Gerindra dengan Golkar di Pilkada Tangsel, Kabupaten Serang, dan Cilegon atau koalisi dengan Demokrat di Pilkada Pandeglang, berpeluang menempatkan kader Gerindra untuk dipasangkan menjadi calon wakil kepala daerah berpasangan dengan petahana. “Tentunya sebuah alasan logis dalam politik praktis, jika tetap memaksa mencalonkan diri mengusung calon kepala daerah (T-1) namun kalah, logisnya dalam kalkulasi politik lebih baik menjadi T-2 dan berpasangan dengan petahana,” paparnya.
Secara hitungan politik, posisi petahana diuntungkan. Pertama, petahana tidak terlalu repot berkampanye karena dalam setiap kegiatan tentunya masyarakat sudah mengenal lebih dahulu petahana. Kedua, petahana memiliki mesin birokrasi, walaupun pasti akan ada klarifikasi bahwa birokrasi, ASN akan bersikap netral, hal itu hanya dalam hal klarifikasi saja, pada praktiknya petahana lebih diuntungkan menggerakkan birokrasi.
Ketiga, waktu durasi kampanye yang dimiliki petahana lebih panjang karena dalam setiap kegiatannya akan selalu bersinggungan dengan gugus tugasnya. Keempat, dapat lebih mudah kampanye dengan basis data yang dimiliki petahana dan menunjukkan segala capaian dan klaim prestasi baik dengan data sekunder maupun data-data lainnya. “Melihat alasan-alasan tersebut, maka narasi yang coba dibangun yaitu Gerindra untuk mengambil peran baik menjadi lawan petahana karena didukung kursi di parlemen, maupun bisa menjadi pendamping petahana. Hal ini dapat dilihat dalam kalkulasi politik yang dilakukan internal partai,” urainya.
Sedangkan pengamat politik dari Unsera Ahmad Sururi mengungkapkan, ada persoalan kultural yang menghambat Gerindra sehingga kesulitan mengusung kader di pilkada 2020. Padahal secara struktural Gerindra menjadi pemenang Pemilu 2019 di Banten, sehingga punya banyak kader yang potensial didorong untuk berkontestasi. “Gerindra mestinya punya posisi tawar yang bagus untuk mencalonkan kadernya di pilkada 2020,” ujarnya.
Sururi tidak terlalu yakin bila Gerindra memilih untuk berseberangan dengan petahana, sebab bagaimana pun pengalaman Golkar, PDIP, dan Demokrat dalam perhelatan pilkada di Banten telah teruji. “Kalau Gerindra berkoalisi dengan Golkar, PDIP, maupun Demokrat, peluang menangnya lebih besar, jadi sulit membayangkan bila Gerindra siap melawan petahana,” katanya.
Sururi menyarankan elite Gerindra di Banten jangan mengharapkan dampak pilpres bisa signifikan hingga ke pilkada 2020 di Banten. Sebaiknya Gerindra wait and see sambil menghitung dengan cermat untuk memasang kadernya. (jek-den/alt/ags)








