SERANG – Nasib empat sekolah dasar (SD) di Kabupaten Serang yang terdampak pembangunan Tol Serang-Panimbang belum ada kejelasan. Wacana relokasi yang sudah digulirkan sejak beberapa tahun lalu sampai saat ini belum terealisasi.
Sekadar diketahui, empat SD yang terdampak pembangunan Tol Serang-Panimbang itu yakni SDN Seba, SDN Inpres Cikeusal dan SDN Cilayangguha di Kecamatan Cikeusal, serta SDN Cipete di Kecamatan Kragilan. Keempat SD itu harus direlokasi lantaran lahannya termasuk dalam jalur perlintasan tol.
Pantauan Radar Banten, Selasa (14/1) di SDN Cilayangguha dan SD Inpres Cikeusal, kedua bangunan SD itu tampak masih utuh. Lokasinya sangat berdekatan dengan proyek tol yang masih dikerjakan. Di lokasi proyek tol sejumlah kendaraan alat berat hilir mudik.
Bangunan gedung SDN Cilayangguha masih berdiri di tepi proyek tol. Letak bangunannya berada di ketinggian 15 meter dari perlintasan tol. Sebagian lahan sekolah sudah ditutupi dengan seng. Di halaman sekolah terlihat patok besi pertanda lahan akan digunakan untuk proyek tol. Sementara, lokasi SD Inpres Cikeusal berada di akses pintu masuk tol.
Salah satu guru SD Inpres Cikeusal Muhammad Agung Saputra yang ditemui Radar Banten di lingkungan sekolah mengatakan, rencana relokasi sekolahnya sudah terdengar sejak tiga tahun yang lalu. Namun, hingga kini belum ada kejelasan. “Kita sangat menunggu, kapan sekolah kita akan direlokasi,” katanya.
Ia mengatakan, proses kegiatan belajar mengajar (KBM) di SD Inpres Cikeusal sudah tidak kondusif lagi. Karena, KBM harus berbarengan dengan hilir mudik kendaraan berat di proyek tol. “Jelas sangat terganggu, anak-anak juga tidak fokus belajar,” katanya.
Setiap hari, kata dia, guru dan siswa di SDN Inpres Cikeusal harus menyaksikan kebisingan alat berat dan getaran-getaran. Selain itu, debu dari alat berat itu juga menghujani lingkungan sekolah. “Kalau sekarang sudah mending karena alat beratnya sudah bergeser, tapi pas awal-awal sangat terasa sekali dampaknya,” ujarnya.
Bahkan, kata dia, ketika proses KBM berlangsung dan alat berat beroperasi, ia lebih memilih mengajak anak didiknya untuk belajar di luar kelas. Karena, kebisingan alat berat tidak bisa dihindari. “Karena lebih efektif di luar kelas daripada di kelas, di mana saja, kadang kita di kebun,” ucapnya.
Karena tidak efektifnya proses KBM, kata dia, sampai-sampai terjadi penyusutan jumlah siswa di SDN Inpres Cikeusal. Sejumlah orangtua banyak yang khawatir anaknya jika bangunan sekolah masih berada di proyek tol. “Sekarang ada 90 siswa, tahun ajaran kemarin ada 96 siswa,” terangnya.
Ia berharap sekolah segera direlokasi karena sudah menghambat program-program di sekolah. “Yang tadinya kita mau penghijauan lingkungan sekolah, tidak jadi, karena belum ada kepastian,” ucapnya.
Hal yang sama juga disampaikan Kepala SDN Cilayangguha Entin Suhartini yang diwawancarai beberapa hari lalu. Menurutnya, dampak proyek tol menimbulkan kebisingan dan getaran di sekolahnya. “Keramik-keramik banyak yang pecah, genting juga berjatuhan,” katanya.
Ia juga mengkhawatirkan anak-anak didiknya terperosok ke tol yang berada 15 meter di bawah lingkungan sekolah. “Dari sekolah ke tol itu kan posisinya turun seperti jurang, tingginya sampai 15 meter, saya khawatir anak-anak main terperosok ke situ,” ucapnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Serang Asep Nugrahajaya mengatakan, keempat SD itu sudah ditetapkan melalui SK Bupati Serang harus direlokasi. Proses relokasi, menjadi kewajiban dari pelaksana pembangunan Tol Serang-Panimbang. “Tidak ada lagi tawar-menawar, empat SD itu harus direlokasi,” katanya.
Ia mengatakan, sebelumnya proses relokasi itu diharapkan dapat dilakukan pada 2019. Namun, hingga awal 2020 belum juga ada progresnya. “Tadinya kami inginkan 2019 itu sudah ada pembayaran lahan dan pembangunan fisik, tapi progres itu belum tercapai, sejujurnya ada kekecewaan dari kami,” ucapnya.
Asep berharap proses relokasi itu dapat dilakukan pada tahun ini. Supaya, proses KBM di empat SD itu tidak terganggu. “Kita terus lakukan rapat koordinasi untuk mengingatkan terkait proses relokasi ini,” katanya.
Asisten Daerah (Asda) I Pemkab Serang Asep Saepudin Mustofa mengatakan, sudah melakukan rapat bersama jajaran pejabat Pemkab Serang lain yang membicarakan pergantian lahan untuk SD terdampak proyek tol. “Jadi, hasil rapat kita sepakat akan meminta diganti seluruhnya, jadi walaupun yang terdampak itu cuma sebagian saja, kita minta semuanya diganti,” katanya.
Pihaknya juga mengaku sudah menyiapkan lahan untuk pengganti keempat SD. Saat ini, kata dia, prosesnya masih pengukuran di Badan Pertanahan Negara (BPN). “Tinggal dua langkah lagi, setelah diukur sama BPN nanti dihitung oleh tim appraisal, setelah ada nilainya nanti tinggal dibayar oleh PPK jalan tol, setelah itu langsung pembangunan,” ujarnya.
Dikatakan Asep, pihak PPK tol juga selama ini tidak keberatan untuk merelokasi empat SD. Pihaknya menargetkan proses relokasi akan dilakukan sebelum pertengahan tahun ini. “Kalau kata BPN, prosesnya cepat hanya untuk empat bidang lahan, paling cuma butuh waktu dua minggu saja, jadi bulan depan juga kalau lancar proses relokasi sudah bisa berjalan,” ucapnya. (jek/alt/ags)








