SERANG, RADARBANTEN.CO.ID- Sudah lima tahun guru dan murid menantikan SDN Inpres Cikeusal direlokasi karena terdampak pembangunan Tol Serang-Panimbang.
Lokasi sekolah di Jalan Raya Panosogan, Kampung Cikeusal Lor RT 09 RW 02, Desa Cikeusal, Kecamatan Cikeusal, Kabupaten Serang, tepat di samping gerbang Tol Cikeusal.
Kondisi tersebut mengganggu pelaksanaan belajar-mengajar. Ketika mobil besar melintas, getaran terasa hingga ke dalam kelas tempat belajar-mengajar berlangsung.
Bangunan sekolah terbagi dalam dua block. Satu block terdiri atas empat kelas yakni kelas satu, dua, tiga, empat dan kamar mandi berdampingan dengan jalan tol.
Sementara block lainnya ruang guru serta ruang kelas lima dan enam yang lokasinya tepat berada di samping block pertama.
Pantauan di lokasi, kondisi SDN Inpres Cikeusal terlihat memperihatinkan. Terutama ruang kelas 1 yang berdampingan dengan jalan tol.
Tembok kelas satu tersebut retak dan ada kaca jendela yang pecah. Pihak sekolah hanya mampu memperbaiki dengan menutup pakai bambu.
Tak sampai di situ, kerusakan juga terlihat di bagian atap sekolah. Plafon jebol dan susunan kayu penyangga sudah lapuk. Banyak juga genteng yang berjatuhan.
Kepala SDN Inpres Cikeusal Jazaul Khair mengaku was-was dengan dengan kondisi fisik bangunan sekolah mereka. Terutama pada saat kendaraan besar melintas, baik yang hendak masuk tol atau pun keluar tol. Pasalnya, getaran yang ditimbulkan oleh kendaraan yang melintas terasa hingga ke dalam kelas.
“Yang bikin was-was ini khawatir ketika banyak kendaraan lewat ada plafon yang jatuh, genteng yang jatuh ketika belajar mengajar. Kalau ada kendaraan besar lewat terasa getarannya, baik yang keluar tol atau pun yang mau masuk tol. Jadi mengganggu proses belajar mengajar,” katanya saat ditemui di lokasi, Selasa 20 Februari 2024.
Akibat getaran itu, lanjut dia, tembok retak dan atap rusak. Apalagi waktu pengurugan, terasa kuat getarannya.
“Kita setiap hari rajin memeriksa kondisi genteng, kalau ada yang mulai turun kita segera perbaiki. Khawatir menimpa siswa,” terangnya.
Pihaknya mengaku kecewa lantaran penantian mereka kurang lebih selama lima tahun tak kunjung terealisasi. Padahal berdasarkan informasi yang ia dapatkan, janji relokasi tersebut sudah disampaikan sejak 2019.
Kekecewaan mereka semakin dalam ketika melihat tiga sekolah lainnya yang juga terdampak pembangunan tol yakni SDN Cilayang Guha, SDN Seba di Kecamatan Cikeusal serta SDN Cipete di Kecamatan Kragilan sudah direlokasi.
“Kita sangat kecewa terhadap PPK jalan tol yang menjanjikan pembangunan. Karena melihat 3 SD lain yang juga terdampak jalan tol sudah direlokasi, sedangkan tinggal kita yang belum direlokasi. Kami sebagai pimpinan dan guru bisa berbuat apa, mengusulkan sudah, tapi masih belum direlokasi,” tegasnya.
Ia mengaku belum mengetahui secara pasti kapan relokasi itu akan terealisasi. Namun pihaknya sempat mendapatkan janji kembali dari pihak-pihak terkait mengenai rencana relokasi yang akan dilakukan pada tahun ini.
Namun demikian, pihaknya tidak diberitahu secara pasti kapan waktu relokasi itu akan dapat direalisasi. Namun informasi terakhir yang mereka terima jika lokasi untuk relokasi sudah ditentukan.
“Di sana kabarnya sudah fix untuk lahan, cuman kita gak tau kapan mulai dibangun,” jelasnya.
Namun demikian, masih ada beberapa permasalahan yang muncul mengenai lahan pengganti yang nantinya akan mereka terima. Mulai dari pemilik lahan yang meminta harga tanahnya dinaikan, hingga luas lahan di lokasi tersebut yang kurang.
“Untuk luas lahan pengganti yang akan digunakan untuk membangun SD, luas lahannya hanya sekitar 2.000 meter, sedangkan luas lahan yang diduduki saat ini 2.500 meter, ada kekurangan sekitar 500 meter,” pungkasnya.
Sekali lagi ia berharap pihak jalan tol segera merealisasikan janjinya. (*)
Reporter: Ahmad Rizal Ramadhani
Editor: Aas Arbi











