SELAIN industri padat modal, aktivitas pertambangan galian C pun marak di Kota Cilegon. Mayoritas tambang pasir, tanah, dan batu. Untuk menemukan galian yang masih aktif maupun yang tidak aktif pun sangat mudah. Di sepanjang akses Jalan Lingkar Selatan (JLS) yang membentang dari Kecamatan Cibeber, melewati Kecamatan Citangkil, dan berakhir di Kecamatan Ciwandan, galian pasir yang masih aktif dan tidak pun terlihat di sepanjang tepi jalan.
Selain di tiga kecamatan itu, bekas aktivitas tambang pun gampang ditemukan di Kecamatan Grogol dan Kecamatan Pulomerak.
Sisa-sisa tambang atau galian kini menjadi semacam kubangan air dengan diameter yang cukup luas serta cukup dalam. Selain kubangan, sisa-sisa galian terlihat menyerupai tebing dengan ketinggian bervariasi.
Bekas galian itu dianggap mengancam keselamatan warga. Bekas galian kini menyerupai tebing sangat rentan longsor karena tidak dilapisi semen atau beton.
Di tahun 2019, setidaknya ada tiga warga yang ditemukan meninggal di bekas galian. Pertama Arya, anak kecil berusia tujuh tahun tewas tenggelam di bekas galian pasir di Kelurahan Ciwedus, Kecamatan Cilegon. Warga Kelurahan Taman Baru, Kecamatan Citangkil itu tenggelam saat asyik berenang sambil bermain bersama lima orang temannya.
Kemudian, pada 9 Juni 2019, Dika (27), warga Kelurahan Cikerai, Kecamatan Cibeber, tewas usai tenggelam bersama sepeda motor yang dikendarainya di bekas galian pasir di kecamatan tersebut. Ia jatuh saat hendak pergi memancing. Dua bulan berselang, pada 15 Agustus 2109, ditemukan mayat laki-laki tanpa identitas membusuk di bekas lokasi galian batu di Lingkungan Rombongan, Kelurahan Kepuh, Kecamatan Ciwandan.
Tiga korban itu merupakan segelintir dari sejumlah peristiwa tewasnya warga di lokasi bekas tambang atau galian yang ditinggalkan begitu saja oleh pengusaha. (bam-jek-nce-mg04/air/ags)








