Aku sesaat memikirkan perkataan Nadya tadi di kantin, apakah ada para elite politik yang benar-benar melek dan peduli rakyat terutama rakyat kecil sepertiku? Aku sangat ragu, aku tidak tahu akan memilih siapa? Calon manakah yang harus aku pilih? Rakyat sangat membutuhkan pemimpin yang bisa bersikap adil, tak memandang hal apapun berdasarkan harta. Dengan uang memang kita bisa mendapatkan segalanya, tapi segalanya tak hanya tentang uang. Aku berdiri dihadapan jendela kamarku dan perlahan membukanya. Udara sejuk yang masuk terasa begitu tenang. Aku menatap lurus ke halaman depan rumahku yang berada simetris dengan gambar seseorang yang merupakan salah satu diantara mereka. Di sepanjang jalan kutemui banyak wajah dari mereka yang terpampang jelas dengan senyuman kebohongan, besar harapanku agar masa ini cepat berakhir. Visi dan misi serta program pengembangan dan kemajuan bagi bangsa telah mereka suarakan dengan lantang, dan keraguan yang ada pada diriku pun kian membara. “Bisakah mereka berkata dengan jujur?” “Dapatkah mereka menyuarakan kebenaran?” Sedikit rupiah yang mereka berikan pada kami dengan tujuan yang begitu besar, suara kami bukanlah sebuah barang yang bisa dibeli. Transaksi ini memang kerap terjadi di lingkungan sekitarku. Bagi kami rakyat miskin yang sangat membutuhkan uang, hal itu menjadi sebuah penawaran yang dapat diterima dengan mudah.
Menjadi seorang pemimpin memang tidak lah mudah, apalagi memimpin sebuah negara besar yang masih dikategorikan sebagai negara berkembang. Dibutuhkan sikap jujur, adil, dan amanah dalam mengemban tugas besar ini. Dulu saat aku duduk di bangku sekolah dasar, aku sempat bercita-cita ingin menjadi presiden agar fotoku bisa dipajang di setiap kelas, berada tinggi di depan, tepatnya di atas papan tulis. Hahahaha alasanku memang terdengar sangat bodoh. Setelah beranjak dewasa aku mulai berpikir, dengan melihat banyak fakta yang terjadi, bahwa menjadi pemimpin perlu konsistensi pada apa yang dijanjikannya pada rakyat. Berkata seolah ialah yang kami cari selama ini, tetapi pada saatnya ia menjabat, ketidaksesuaian dengan perkataannya saat kampanye mulai terlihat. Sungguh aku muak dengan hal basi ini. “Apakah para elite itu tak ada yang berkata dengan sebenarnya?” “Tak ada yang bekerja dengan sesungguhnya?” Wewenang yang negara berikan kepada mereka wakil rakyat, terkadang membuat mereka terlupa. Terlupa akan banyaknya rakyat yang menangis kelaparan, banyaknya rakyat yang membutuhkan pekerjaan, banyaknya anak yang harus bersekolah, banyaknya sekolah tidak layak yang butuh difasilitasi, banyaknya akses jalan di pelosok yang harus diperbaiki.
Mungkin apa yang mereka katakan pada rakyat saat ini menjadi salah satu strategi dalam memenangkan pemilu yang katanya merupakan pesta demokrasi. Demokrasi yang memiliki arti “Dari Rakyat, Oleh Rakyat, dan Untuk Rakyat” tidak aku temukan disini, kutemukan arti lain dibalik semua ini. Keberhasilan yang mungkin mereka maksudkan adalah disaat mereka bisa memenangkan pemilu dan menduduki kursi teratas, tak peduli banyak janji yang harus ditepati, tak peduli banyak tugas yang harus dipenuhi. Rakyat yang tidak menjadi prioritas utama baginya, hanya kekuasaan dan uang lah yang ia inginkan. Tak ada hal lain yang lebih penting dari pada tahta, mereka ingin menguasai negeri ini agar berada dalam genggamannya.
“Pilihlah aku, niscaya akan kubangun bangsa ini lebih maju!”
“Pilihlah aku, maka akan kupenuhi semua kebutuhan dan keinginan rakyatku!”











