Dengan segala upaya, seluruh aspirasi dicurahkan, berharap pulih dari keterpurukan. Itu semua disambut hangat dengan tutupan telinga mereka. Lucu bukan. Dulu aku pernah belajar tentang kepemimpinan di sebuah organisasi. Pemimpin harus mengayomi, pemimpin harus bisa menaungi perbedaan dan permasalahan anggota-anggotanya, pemimpin harus adil. Namun saat ku beranjak membuka mata realita, sosok pemimpin itu tidak sama dengan yang kubayangkan. Pemimpin yang egois, pembohong, pandai mengucap janji tak berujung aksi.
Oligarki merayap sampai kepada ranah pemberian kekuasaan, tak peduli seberapa kompetensi yang dimiliki, namun seberapa besar mereka berkontribusi dalam mensukseskan kampanye. “Saya memastikan bahwa kepentingan rakyat di atas segalanya!”, ingin sekali aku menertawakan kebohongan besar itu. Kelompok kecil elite yang selalu kau beri suguhan kekuasaan tanpa diimbangi dengan kesejahteraan rakyat, itu kan yang kau maksud?.
Jahatnya rezim orde baru tak luntur di negeri ini, seperti sudah menjadi suatu tradisi di mana para pemimpin selalu mempromosikan dirinya sebagai manusia yang demokratis demi menutupi sifat asli keoligarkian dalam dirinya. Sungguh tragis hidup di negeri demokrasi namun tak demokratis. Politik Indonesia seakan-akan wadah ladang bisnis mereka, masyarakat dijadikan ladang eksploitasi, dan menciptakan regulasi demi kepentingan sendiri namun berkedok demokrasi. Kami sangat rindu sekali sosok populis yang sangat pro demokrasi, bukan hanya mengandalkan lip service tetapi harus juga merealisasikan apa yang di ucapkan.
Sungguh indah nya negeri ini ketika membayangkan para pemerintah berdedikasi besar terhadap rakyat. Bagaikan sebuah keniscayaan yang fana untuk hal itu bisa terjadi. Namun tidak melepas kemungkinan untuk membuat itu terjadi, tak ada habis nya untuk berharap supaya dijauhkan dengan pemerintah oligarki.
Sistem politik turun menurun yang seharusnya tidak ada lagi di lingakaran pemerintahan saat ini, karna tak sepantasnya mereka yang mendapatkan kedudukan dengan pemberian memimpin dengan objektif, pasti saja ada rasa keinginan untuk menguntungkan pihak tersebut, dilihat dari pemberian kedudukan seharusnya pemimpin yang baik adalah pemimpin yang menanamkan rasa keadilan di dalam pemilihan bukan hanya mengharapkan adanya pemberian kedudukan, bentuk pemerintahan yang mempermudah si ahli waris mendapatkan kekuasaan tanpa harus berusaha, nampak jelas disitu bahwa politik turun menurun ini menghasilkan sebuah pemimpin yang mengandalkan pemberian kedudukan dengan tidak melakukan usaha sama sekali, tak mempunyai talenta berpolitik demokrasi banyak namun berani mengambil kedudukan yang seharusnya bisa hanya di dapatkan kepada orang yang berani berdedikasi dan amanah.
Aku, kamu, kita semua perlu melawan hal keji yang tak pantas tumbuh di ranah politik Indonesia. Kami semua benci demokrasi palsu.











