“Yang tidak etis ketika melakukan intervensi, sebab pilkades bukan panggungnya partai politik,” tuturnya.
Ia melanjutkan, proses berdemokrasi seharusnya tetap dijaga, anggota Dewan punya tanggung jawab moril untuk menjadikan pilkades serentak ini sesuai dengan prinsip-prinsip etika demokrasi.
“Semestinya mekanisme demokrasi dan politik di desa biarlah menjadi dari, oleh dan untuk masyarakat desa,” urainya.
Namun faktanya, tambah Sururi, gelaran pilkades selalu dijadikan panggung politik oleh para elite parpol. Di mana sejumlah calon kades justru banyak yang dipersiapkan atau didorong oleh para anggota Dewan.
“Realitasnya demikian dan itu jelas menabrak etika politik, karena mengukur dari perspektif elite saja dan kepentingan politik,” bebernya.
Adapun kalkulasi politiknya cukup jelas, sebab figur calon kades yang didukung itu diharapkan akan memberikan dan memobilisasi suara di pemilu mendatang.











