Bagai kucing melihat ikan asin, insting berburu Dodi pun mulai aktif. Berawal dari mengajak kenalan, tuker nomer telepon, sampai sering diajak jalan-jalan, benih-benih asmara pun tumbuh di antara mereka.
Maklumlah, Sari sih katanya memang menggoda, selain paras cantik khas gadis desa, ia juga memiliki bodi super montok lengkap dengan kulit putih mulus merona. “Mulai dari preman pasar, tukang ojeg dan kang parkir juga suka sama dia, apalagi saya,” katanya.
Meski awalnya Dodi kurang percaya diri karena wajahnya tak tampan, posturnya juga kurus tinggi, tapi ia cukup bisa berbangga diri karena saat itu usaha orangtuanya sedang maju. Bahkan sampai bisa terbeli mobil dan bangun rumah.
Setelah lulus SMA, Dodi langsung minta menikah dengan Sari. Awalnya keluarga kaget dan melarang, tapi karena Dodi terus memaksa, mereka pun tak bisa berbuat apa-apa.
Pernikahan berlangsung khidmat, Dodi dan Sari tampak bahagia duduk di pelaminan. Katanya sih mereka terlihat masih belum pantas mengenakan baju pengantin, tapi kalau hasrat sudah menggebu-gebu, tentu tak bisa ditunda. “Daripada saya sewa open BO, mending nikah,” kata Dodi.











