Rumah tangga mereka bisa dibilang penuh kebahagiaan. Soalnya, semua difasititasi orangtua, Dodi meminta dibangunkan rumah lengkap dengan ruko di depannya. Padahal Sari ingin suaminya bekerja di pabrik saja. “Saya pengin kayak orangtua, bisnis, jualan, bukan kerja pabrik,” tukasnya.
Berawal dari situlah mereka punya pemikiran masing-masing. Alhasil, Sari tak pernah membantu suaminya berjualan. Bukannya ikut menjaga toko, ia malah sering keluyuran bersama teman-teman. “Setiap hari minta uang mulu,” keluhnya.
Jika hasil jualan sedang laku keras, Dodi sih tak pernah pelit memberi uang. Tapi jika jualan sedang sepi, ia tak bisa berbuat apa-apa. Ujung-ujungnya meminta uang pada ibunya. “Enggak enak sebenarnya, tapi daripada istri ngamuk,” ujarnya.
Kondisi itu diperparah ketika sudah dua tahun berumah tangga, mereka belum juga dikaruniai keturunan. Jadilah ribut setiap hari, masalah kecil bisa jadi besar. “Kalau sudah ribut, dia langsung pergi sama temen-temennya, belanja segala macem,” akunya.
Akhirnya mereka pun tak tahan, Dodi mengucapkan cerai. Sari pulang ke Indramayu. Mereka pun cerai dan sekarang Dodi sudah punya istri baru lagi. “Kalau Sari sih saya enggak tahu dia udah nikah lagi apa belum,” tutupnya. (drp/alt)











