Sedangkan kelompok yang mengalami penurunan indeks adalah kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 0,18 persen. Sementara itu, kelompok informasi, komunikasi dan jasa keuangan mengalami perubahan indeks sebesar kurang dari 0,01 persen.
Adhi mengungkapkan, berdasarkan pemantauan BPS terhadap 416 jenis barang dan jasa serta hasil Survei Harga Konsumen (SHK) di Kota Serang, Tangerang, dan Cilegon baik secara mingguan, dua mingguan maupun bulanan, diketahui pada bulan Oktober lalu, sebanyak 216 komoditas mengalami perubahan harga. Rincian lengkapnya adalah 126 komoditas mengalami kenaikan harga dan sisanya sebanyak 90 komoditas mengalami penurunan harga. Beberapa komoditas yang mengalami kenaikan harga pada Oktober antara lain cabai merah, kulit melinjo, cabai hijau, minyak goreng, cabai rawit, pembersih lantai, papaya, bayam, ongkos jahit, dan helm.
Sementara, lanjutnya, komoditas yang mengalami penurunan harga selama bulan Oktober antara lain buah naga, tomat, telur ayam ras, anggur, sawi hijau, buncis, pir, labu siam/jipang, terong, dan bawang putih.
Pada kesempatan itu, Adhi juga menyampaikan, Kota Cilegon masuk sepuluh besar kota inflasi di Pulau Jawa. “Kota dengan inflasi tertinggi di Pulau Jawa yakni Tegal 0,45 persen,” ungkapnya.
Ia mengatakan, setelah Kota Cilegon, inflasi tertinggi di Banten diikuti Kota Tangerang sebesar 0,08 persen dengan IHK sebesar 106,03. Disusul Kota Serang sebesar 0,05 persen dengan IHK sebesar 108,82. Kedua kota ini menduduki posisi ke 18 dan 20 dari 26 kota inflasi di Pulau Jawa. (nna/air)











