Pemprov Banten berhasil menekan angka stunting di Provinsi Banten. Pada 2017 lalu, angka stunting di Banten sebanyak 29,6 persen. Namun pada 2019 lalu, angkanya turun drastis sebesar 23,4 persen.
Hal itu diungkapkan Ketua TP PKK Provinsi Banten Niniek Nuraini yang merupakan istri dari Gubernur Banten Wahidin Halim. “Angka stunting sudah terjadi penurunan dari 2017 ke tahun 2019,” ujar Niniek.
Kata dia, upaya penurunan angka stunting di Banten terus dilakukan Pemprov Banten Bersama TP PKK Provinsi Banten. Persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya oleh satu instansi saja, tapi banyak unsur di dalamnya.
Niniek mengatakan, persoalan stunting dapat ditekan dengan adanya kerjasama dari banyak OPD, mulai dari Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak Kependudukan dan Keluarga Berencana, Dinas Kesehatan, Dinas Pendidikan, hingga Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang. Namun, dari banyaknya unsur yang terlibat dalam persoalan stunting itu, pendidikan merupakan faktor utama untuk mencegah stunting. “Yang terpenting itu adalah pendidikan. Bagaimana usia produktif mendapatkan pendidikan, agar anak-anak yang mereka lahirkan nanti tidak mengalami stunting,” tegasnya.
Diketahui, stunting adalah kondisi gagal tumbuh pada balita akibat dari kekurangan gizi dalam jangka waktu yang lama (kronis), sehingga anak tumbuh lebih pendek untuk usianya.
Kekurangan gizi ini terjadi sejak bayi di dalam kandungan dan pada masa awal setelah lahir.
Ia menerangkan, Pemprov sudah menggratiskan sekolah tingkat SMA/SMK dan menambah jumlah sekolah yang ada di Banten. Untuk itu, fasilitas pendidikan itu harus dimanfaatkan dengan baik oleh masyarakat agar pengetahuan terus bertambah.
“Persoalan stunting itu bukan hanya saat anak itu lahir. Tapi kehamilan itu harus direncanakan, sebelum menikah, saat menikah, sebelum hamil, saat hamil, hingga anak itu lahir,” terangnya.
Gizi yang dibutuhkan anak tidak hanya saat ia lahir, tetapi juga di dalam kandungan ibunya. Untuk itu, para ibu hamil sangat dianjurkan untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Selain itu, ibu hamil juga harus didukung oleh lingkungan, termasuk suaminya dengan tidak merokok.
Setelah lahir, lanjut Niniek, kebutuhan gizi bayi harus juga terpenuhi. Pemberian air susu ibu (ASI) sangat penting bagi bayi. Untuk menghasilkan ASI, maka ibu menyusui juga harus tercukupi gizinya. Selain itu, dukungan mental juga harus diberikan kepada ibu menyusui. “Karena faktor mental itu sangat menentukan kualitas ASI. Kalau ibu stress, ASI tidak keluar,” ujarnya.
Lagi-lagi, Niniek mengatakan, untuk memenuhi gizi ibu hamil, ibu menyusui, dan bayi, masyarakat harus mengetahuinya melalui pendidikan. Namun, pengetahuan itu tak hanya didapatkan melalui sekolah, tapi juga saat ini bisa ditemui dengan mudah di internet. (*)











