Dalam catatannya selama Pilgub Banten sebelumnya, hampir semua partai politik memiliki mekanisme tersendiri dalam mengusung kandidat calon gubernur jagoannya.
“Hasil survei memang jadi pertimbangan, namun soal gagasan calon tidak menjadi penting sebab yang paling penting bagi parpol adalah calonnya menang,” tegasnya.
Semakin banyak calon gubernur, lanjut Ail, itu semakin baik bagi publik karena lebih banyak alternatif calon pemimpin. Namun begitu, peran partai politik sangat menentukan terkait siapa saja yang akan maju di Pilgub Banten 2024.
“Bukan berarti tidak ada peluang bagi calon independen, tentu masih bisa berkontestasi meskipun berat persyaratannya,” pungkasnya.
Dalam diskusi, Wakil Ketuda DPRD Banten dari Fraksi Demokrat M Nawa Said Dimyati menilai, kepuasan publik terhadap kinerja WH-Andika di bawah 60 persen cukup wajar, sebab ada persoalan komunikasi di Pemprov Banten.
“Saya menduga masalah komunikasi dan publikasi yang jadi penyebabnya. Sebab dalam APBD Banten, anggaran publikasi Pemprov Banten di bawah 1 persen dari APBD setiap tahunnya. Sementara Pemprov Jabar, DKI Jakarta dan Jawa Tengah, anggaran publikasinya mencapai 8 persen dari total APBD,” ungkapnya. (den/alt)











