Kesultanan Banten di bawah kekuasaan Maulana Hasanudin mulai memperluas wilayah kekuasaan ke Jayakarta, Karawang, Lampung, dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Selatan.
Selain itu, ia melakukan pula ekspedisi ke pedalaman dan ke pelabuhan-pelabuhan lain, terutama ke Sunda Kalapa. Kota ini berhasil ditaklukkan pada tahun 1527 dan ditandai dengan penggantian nama Sunda Kalapa menjadi “Jayakarta”.
Dengan ditaklukannya Jayakarta, Banten memegang peranan lebih penting serta dapat menarik perdagangan lada ke pelabuhannya. Peristiwa ini menggagalkan usaha Portugis, di bawah pimpinan Henrique de Leme, untuk mengadakan perjanjian dengan Raja Sunda.
Setelah itu, daerah Lampung, Bengkulu, sampai Solebar yang berbatasan dengan Sumatera Barat berhasil dimasukkan ke dalam wilayah kekuasaan Banten.
Kiranya penguasaan wilayah ini dimaksudkan untuk menguasai seluruh perairan Selat Sunda yang sangat strategis bagi kepentingan pelayaran dan perdagangan Banten serta perluasan kebun lada.
Sementara itu, di Demak terjadi krisis berkepanjangan di kalangan keraton. Perebutan kekuasaan terjadi sejak tahun 1547 hingga 1568. Krisis berakhir ketika menantu Sultan Trenggono, Jaka Tingkir berhasil naik tahta dan memindahkan pusat kerajaan ke Pajang, Maulana Hasanuddin, mempunyai hubungan kekerasan dengan Sultan Demak karena ayahnya, Sunan Gunung Jati adalah menantu Sultan Demak, dan isteri Maulana Hasanuddin yang bernama Pangeran Rstu (Ratu Ayu Kirana), adalah puteri Sultan Demak, Trenggono.
Dari perkawinan ini telah lahir beberapa orang anak, diantaranya Maulana Yusuf dan kedua Pangeran Jepara. Maulana Hasanuddin bersuaha menjauhkan diri dari kekisruhan di Demak.
la kemudian memanfaatkan situasi ini untuk melepaskan diri dari pengawasan Demak. Banten menjadi kerajaan yang berdiri sendiri dengan Sultan Hasanudin sebagai raja pertamanya. Agaknya hal inilah menyebabkan anggapan bahwa pendiri Kesultanan Banten adalah Maulana Hasanudin Banten.
Maulana Hasanuddin wafat pada tahun 1570 dan dimakamkan di samping Masjid Agung Banten. Setelah Maulana Hasanudin wafat, rakyat Banten menyebutnya Pangeran Surasowan, Panembahan Seda Kingkin.
Julukan ini mengandung maksud bahwa Maulana Hasanuddin adalah pendiri Keraton Surasowan serta dengan meninggalnya Maulana Hasanudin, rakyat Banten berduka cita dan merasa rindu akan kebijaksanaannya. (Fauzan)











