“Dari tiga jenis yang ada, kita teliti jenis mana yang paling unggul, sehingga bisa didaftarkan kembali menjadi varietas padi lokal unggulan di Banten,” tegasnya.
Jika nanti hasil penelitan tersebut berhasil mengidentifikasi Padi Kewal unggulan, maka jenis tanamannya dapat langsung didaftarkan oleh pemerintah daerah sebagai varietas lokal, dan dapat dikembangkan untuk diperbanyak pembibitannya.
“Kalau sudah terdaftar dan dikembangkan, maka varietasnya dapat dilestarikan oleh pemerintah daerah, sehingga tidak punah atau dicuri daerah lain,” bebernya.
Masih dikatakan Pepi, Padi Kewal sangat mudah tumbuh di tanah apa saja, baik sawah, maupun tanah darat. Sebab, kewal yang berkembang di Kabupaten Serang bukan padi huma.
“Untuk masa tanam, umumnya dari mulai masa semai sampai panen 165-180 hari, tergantung kondisi cuaca. Itu Semai dari 18 -21 hari,” pungkasnya.
Sementara itu, Kasi Pelayanan Teknis Tanaman Pangan Distan Banten Ade Salhah mengatakan, penelitian dan uji lokasi konservasi tanaman padi Kewal merupakan salah satu upaya untuk melestarikan varietas lokal dan mendorong padi Kewal menjadi bibit unggul nasional.
“Di Banten saat ini, sudah terdaftar sejumlab varietas padi lokal, diantaranya padi yang dikembangkan di Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Lebak dan Kabupaten Serang. Namun hanya padi Kewal yang terancam punah karena jarang petani yang menanamnya,” katanya.











