Ade berharap, hasil riset dan penelitian Padi Kewal yang dilakukan BRIN bisa mengembangkan padi kewal sebagai varietas lokal unggulan Banten.
“Kalau sudah jadi bubur unggul, pasti banyak petani yang mau menanamnya,” tuturnya.
Salah satu petani padi Kewal di Kecamatan Padarincang, Yuliani mengaku, pihaknya tetap mengembangkan padi Kewal lantaran beras Kewal produksi lokal Banten merupakan makanan Sultan pada zaman dulu.
“Ini kalau berbicara sejarah beras Kewal panganan petinggi atau para Sultan Banten. Tapi saat inikurang diminati oleh masyarakat lokal, padahal pernah mendunia,” katanya.
Aktivis tani yang akrab disapa Yuli ini melanjutkan, keunggulan beras Kewal adalah pada masa panennya hanya empat bulan, sementara padi jenis lain 6 bulan lebih.
“Kekurangannya memang benihnya susah diambil, apalagi untuk diperjualbelikan dari produksi luar,” bebernya.
Kendati demikian, Yuliani meminta kejelasan atau dukungan penuh dari pemerintah. Terutama dukungan dari Pemprov Banten dan Pemkab Serang.
“Ini butuh legalitas, karena itu bisa dikembangkan. Kami berharap adanya penelitian Padi Kewal bisa mendorong agar ke depan Padi Kewal bisa dipercepat menjadi 3 bulan dalam memanennya,” jelasnya.
Yuliani berharap, padi Kewal bisa menjadi padi unggula. Nasional, sebab dalam menanam padi jenis apapun harus bisa menjual, jangan sampai beras lokal Kewal Banten ini tak laku dipasaran.
“Satu kata dari kami, harus Gintani (Gelem Ore Gelem Kudu Nani). Setahun empat kali panen target yang akan dicapai oleh kami, semoga pemerintah membantu,” harapnya.
Reporter: Deni Saprowi











