PANDEGLANG, RADARBANTEN.CO.ID -Separuh badan jalan raya nasional ruas Cikeusik-Binuangeun sepanjang puluhan meter amblas akibat terjadi pergerakan tanah.
Selain mengakibatkan jalan amblas satu unit rumah milik Ebi warga Kampung Kolecer Desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Kabupaten Pandeglang ambruk, pada hari Sabtu, 31 Desember 2022 kemarin.
Penyebab terjadinya pergerakan tanah diduga akibat kondisi tanah labil karena diguyur hujan terus menerus ditambah lagi kendaraan bertonase berat melintasi jalan penghubung antar Kabupaten Pandeglang dan Kabupaten Lebak tepatnya ruas Cikeusik-Binuangeun, Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak.
Kasi Pemerintahan Kecamatan Cikeusik, Ade Suhendi mengatakan, akses jalan nasional tersebut baru selesai dihotmik. Namun kondisinya kini rusak berat.
“Badan jalan terbelah menjadi beberapa bagian diakibatkan oleh pergeseran tanah. Dan berdampak pula kepada rumah warga berada di pinggir jalan ikut rusak,” katanya, Senin (2/1).
Ade menjelaskan, terjadinya tanah bergerak atau pergerakan tanah karena kondisi tanah labil. Ditambah curah hujan tinggi.
“Selain itu terjadi angin kencang yang mengakibatkan sejumlah rumah warga mengalami kerusakan. Akibat tertimpa pohon tumbang,” katanya.
Lebih lanjut Ade mengungkapkan, korban bencana pergerakan tanah serta angin kencang telah dilakukan pendataan. Kemudian disalurkan bantuan sosial kepada para korban bencana oleh Kades Umbulan, Sarta.
“Saya bersama Kapolsek sudah mengecek lokasi jalan yang rusak. Kami mengimbau kepada pengguna jalan yang mau melintas jalan tersebut dimohon agar lebih berhati-hati karena di khawatirkan terjadi pergerakan tanah susulan mengingat curah hujan masih tinggi,” katanya.
Kepala Desa Umbulan, Sarta mengatakan, selain rumah Ebi terdapat lima rumah warga lainnya yang ikut rusak terkena dampak pergerakan tanah.
“Jumlah korban rumahnya rusak karena pergerakan tanah ada enam (6) unit. Satu Unit ambruk dan lima (5) rumah rusak sedang,” katanya.
Kata dia, kalau pergerakan tanah hingga mengakibatkan badan jalan amblas bukan pertama kali. Tetapi sudah kesekian kalinya.
“Sudah mengalami amblas sebanyak tiga kali. Sudah dilakukan perbaikan namun sekarang kembali amblas,” katanya.
Sementara ini, diungkapkan Sarta, belum ada penanganan dari pihak jalan nasional. Sedangkan dari unsur Muspika dan aparatur desa sudah mengecek ke lokasi.
“Adapun sebagai upaya menghindari hal tak diinginkan warga menandai jalan amblas dengan pohon pisang. Harapan kita secepatnya dapat diperbaiki,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Aditya










