Salmah berharap, dengan publikasi di media sosial dan media masa gerakan perempuan Muhammadiyah lebih dikenal.
“Program itu kalau sudah dilaksanakan memang sudah selesai, tetapi kalau tidak dipublikasi siapa yang tahu.” imbuhnya.
Menurutnya, Muhammadiyah beserta gerakan sayapnya memang dikenal sebagai organisasi yang bergerak secara senyap, akan tetapi untuk zaman sekarang hal ini sudah kurang relevan. Hematnya, jika program atau kegiatan tidak dipublikasi maka kemanfaatannya akan menjadi sempit.
“Publikasi bukan hanya di media sosial, maupun media massa, tetapi juga di jurnal-jurnal ilmiah, lebih-lebih yang sudah terindex scopus maupun sinta,” tambahnya.
Kedua kanal publikasi tersebut, sambung Salmah, diharapkan akan memberikan kemanfaatan yang lebih luas dari program-program yang telah disusun dan dijalankan.
“Antara Aisyiyah dan Nasyiah, harus bersinergi dalam mempublikasikan setiap program dan kegiatan-kegiatan yang bermanfaat. Bahwa publikasi yang dilakukan bukan untuk riya, tetapi memang semata-mata diniatkan untuk menyebarkan manfaat lebih luas,” pungkasnya. (*)
Reporter: Angger Gita
Editor: Agung S Pambudi











