
Kesedihan dan kegembiraan adalah hal yang pasti terjadi. Keduanya berkelindan dan saling mengisi dalam perjalanan hidup sehingga manusia benar-benar dapat merasakan sifat kemanusiaannya dalam drama hectic penghambaan kepada Allah SWT.
Seorang mukmin harus mengkristalkan keimanan dan sadar bahwa Allah SWT akan menguji keimanannya dengan berbagai kesedihan, semisal meninggalnya orang tercinta. Dari ujian kehilangan akan tampak dengan jelas tebal-tipis keberterimaan dirinya atas ketentuan-ketentuan dari Allah SWT.
Allah SWT menandaskan bahwa manusia akan diuji dengan keburukan dan kebaikan, QS Al-Anbiya, ayat 35.
Begitu pula akan diuji dengan kejayaan dan kehancuran, QS Ali-Imran, ayat 140. Namun, ujian-ujian Allah tersebut, bermuara pada pembelajaran seorang mukmin agar selalu bersyukur dan bersabar.
Ketika kegembiraan datang ia bersyukur dan manakala kesedihan menghampiri hati, maka ia bersabar. Seorang pembesar sufi, Imam Junaid al-Baghdadi, seperti dinukil oleh Imam al-Ghazali, mengatakan bahwa seseorang tidak akan mencecap manisnya iman hingga ia diuji oleh Allah SWT, sedangkan ia merelakan dan bersabar akan ujian-ujian tersebut, kitab Mukasyafatul Kulub halaman 14.
Berkaca dari pernyataan Imam Junaid al-Baghdadi tersebut, maka seorang mukmin harus dapat mengelola kesedihan hati dengan cara-cara yang telah digariskan oleh Allah SWT dan tidak larut dalam kesedihan akut sehingga menimbulkan keputusasaan dan mafsadat pada dirinya.
Allah SWT telah memandu hamba-Nya agar tetap mengingat dan berzikir kepada-Nya, seperti tertandas dalam QS Ar-raad ayat 28, karena hal yang demikian akan dapat menenangkan hati, di saat hati dirundung kesedihan.
“Yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya mengingat Allah hati akan selalu tenteram.”
Berzikir adalah mengingat dan menyebut asma Allah baik melalui lisan atau di dalam hati. Bahkan, kedahsyatan berzikir dengan melafadzkan kata “Allah,” Rasulullah SAW memberikan garansi bahwa, jika masih ada seorang hamba yang menyebut kata “Allah,” maka hari kiamat tidak akan terjadi seperti dikutip oleh Imam Abi Al-Qasim Abdul Karim bin Hawazan Al-Qusyairiyyah, kitab Ar-Risalah al-Qusyairiyyah halaman 256.
Ketika seorang mukmin selalu menggantungkan hatinya dan membasahi bibirnya untuk mengingat Allah, maka sejatinya Allah tidak akan melupakan hamba tersebut.
Berzikir dan mengingat Allah ia lakukan dengan posisi berdiri, pada saat duduk atau dalam keadaan berbaring. Pada saat berzikir, seorang mukmin akan merasakan persenyawaan transmisi dengan Dzat Yang Maha Mutlak dan Transendental, Allah SWT.
Buah dari berzikir kontemplatif ini, dapat melenturkan ketegangan saraf, mengendorkan nafsu amarah dan menghilangkan ketidakridaan akan keputusan Allah SWT yang pada natijahnya akan tergiring menjadi jiwa seorang mukmin menjadi ridha dan sabar atas segala kepastian dari Allah SWT dalam menjalani liku kehidupan.
Maka perbanyaklah berzikir sebagaimana perintah dari Allah SWT seperti terekam dalam QS Al-Ahzab, ayat 41.
Wallahu ‘alam bishawab.











