“Menjadi tanggung jawab kita terutama pemerintah untuk bisa meluruskan persepsi yang salah agar masyarakat tahu. Sebenarnya dalam sosialisasi seperti ini sasaran yang tepat adalah memberikan sosialisasi kepada laki-laki, karena laki-lakilah yang bisa melindungi perempuan, bukan perempuannya,” katanya.
Akan tetapi umumnya, sosialisasi yang dilakukan kaitan perlindungan perempuan atau anak yang datang lebih banyak ibu-ibunya. Sementara laki-lakinya tidak banyak dilibatkan.
“Kenapa kita ingin laki-lakinya yang lebih banyak datang karena kita ingin memberi masukan kepada kaum bapak dan ibu, betapa pentingnya perempuan dan anak. Sebab tidak mungkin laki-laki hidup sendiri tanpa perempuan,” katanya.
Adapun yang menjadi faktor utama terjadinya kejahatan, kekerasan atau pelecehan seksual adalah pelaku merasa lebih mudah untuk melakukan tindakan kejahatan dan atau perbuatan cabul tersebut. Oleh karena itu peningkatan dan penguatan pemahaman terhadap kesetaraan hak antara laki laki dan perempuan di dalam keluarga maupun lingkungan pendidikan menjadi salah satu poin krusial penyelesaian persoalan kekerasan ini.
“Sudah saatnya persepsi yang salah kita rubah dalam melaksanakan upaya perlindungan perempuan dan anak dan budaya patriarki. Agar lebih inklusif, keberpihakan terhadap korban, pemberian keyakinan, keamanan, kenyamanan, pelayanan maksimal serta pemberian restitusi bagi korban haruslah dilakukan setegak-tegaknya agar merasa terbantu dan mendapat perlindungan,” katanya.
Reporter : Purnama Irawan
Editor: Ahmad Lutfi











