oleh
Rd. Nia Kania Kurniawati
Selepas dari pandemi Covid-19, kehidupan kembali mulai menggeliat di berbagai sektor, termasuk aktivitas dunia kampus. Awal tahun 2023 ini Untirta menyelenggarakan program Kuliah Kerja Mahasiswa (KKM), di mana mahasiswa diharapkan dapat mengembangkan pengetahuan secara nyata melalui berbagai kegiatan yang dilaksanakan dan sebagai wujud pengabdian mahasiswa kepada masyarakat secara langsung. Dengan kata lain, turut serta memajukkan dan menggali potensi tiap wilayah sehingga berdampak positif kepada masyarakat sekitar.
Didampingi oleh para Dosen Pembimbing Lapangan, KKM ditekankan pada aplikasi keilmuan, softskill dan pengalaman belajar di masyarakat selama kurang lebih satu bulan.
Wilayah yang menjadi tempat tugas KKM kami, bertempat di Desa Samparwadi, Kecamatan Tirtayasa, Kabupaten Serang, Provinsi Banten. Desa Samparwadi terdiri dari tiga Rukun Warga (RW) dan 10 Rukun Tetangga (RT) dengan jumlah 711 Kartu Keluarga (KK). Merupakan kawasan yang dipenuhi dengan lahan pertanian atau kebun bahkan lahan pertanian lebih luas dibandingkan dengan luas pemukiman warga, dikarenakan mata pencaharian warga desa Samparwadi banyak yang menjadi buruh tani. Oleh karena itu, komoditas yang cukup banyak di Desa Samparwadi ini adalah padi, bawang dan lain sebagainya. Salah satu komoditas yang sudah berkembang cukup pesat di desa ini adalah padi. Namun, sebagian besar masyarakat di desa ini hanya sebagai buruh petani dan bukan pemilik lahan. Kurangnya pemahaman mengenai strategi pemasaran di desa Samparwadi membuat hasil pertanian di desa ini kurang berkembang sehingga hanya diperjualbelikan di desa tersebut. Selain buruh tani, mata pencaharian warga desa Samparwadi adalah sebagai pedagang.
Untuk aktivitas terbanyak warga, mereka memanfaatkan kali atau sungai kecil sepanjang jalan di Desa Samparwadi untuk mandi, menggosok gigi serta mencuci baju dan lain-lainnya. Namun sebenarnya keadaan air di dalam kali nampak keruh sehingga alangkah lebih baiknya jika hal tersebut dapat ditanggulangi terlebih dahulu agar tidak menyebabkan penyakit atau yang semacamnya. Tidak sedikit warga memiliki MCK di dalam rumah tapi sebagian besar sampai saat ini masih memanfaatkan air dari dalam kali.
Pengamatan lain yaitu akses jalan di Desa Samparwadi masih membutuhkan banyak perhatian dari pihak setempat dan aparat desa. Dikarenakan akses jalan yang digunakan sehari-hari oleh masyarakat setempat tidak layak dan menjadi penghambat kegiatan produktivitas masyarakat setiap hari. Dengan kata lain, jalan yang laik masih kurang dari setengahnya.
Mengenai lingkungan di desa ini khususnya terkait keberadaan sampah menjadi salah satu permasalahan lain yang masih belum dapat teratasi dengan baik. Tidak adanya tempat pembuangan akhir dan pengangkutan sampah yang rutin, menyebabkan penumpukkan sampah di desa ini. Penumpukan sampah di desa ini akibat kurangnya pemahaman tentang pengelolaan sampah dengan baik, hal ini menyebabkan pencemaran lingkungan pada desa tersebut yang membuat desa ini terlihat kotor dan menghasilkan bau yang tidak sedap.
Minimnya pengetahuan dan kesadaran masyarakat mengenai kebersihan lingkungan membuat mereka tidak peduli akan kebersihan lingkungan mereka sendiri, tak jarang masyarakat yang membuang sampah di kali. Sudah berulangkali dibuatkan fasilitas sampah dan alat jaring sampah oleh aparat desa maupun mahasiswa yang melakukan KKM tapi kurang dapat dipergunakan dengan baik.
Belum lagi, Desa Samparwadi masih belum memiliki ketersediaan fasilitas kesehatan yang mana desa tersebut masih belum memiliki puskesmas sendiri. Jangkauan terdekat adalah puskesmas yang berada di kecamatan Tirtayasa. Di sisi lain desa ini sudah memiliki layanan posyandu, namun fasilitas posyandu masih belum memadai seperti tidak adanya alat tensi darah, alat ukur tinggi badan dan lain sebagainya. Keterbatasan fasilitas ini mempengaruhi masyarakat mengenai kepedulian terhadap kesehatan mereka dan tumbuh kembang anak. Bahkan, masyarakat di desa ini masih banyak yang belum mengetahui mengenai pengetahuan tentang stunting. Sehingga, permasalahan stunting pun rasanya belum menjadi sorotan.
Bagaimana dengan Sumber Daya Manusia di sana? Keberadaan SD, SMP, dan SMK menunjukan bahwa adanya ketersediaan fasilitas pendidikan di desa Samparwadi. Hanya saja berdasarkan data yang diperoleh dari Desa, sarana Pendidikan PAUD/TK sebanyak 2 unit, Sekolah Dasar (SD) 2 unit, Sekolah Menengah Pertama (SMP) 1 unit dan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) 1 unit. Fasilitas sekolah di desa ini masih butuh perhatian pemerintah setempat, seperti kursi yang kurang layak pakai, peralatan mengajar yang kurang memadai, minimnya tempat sampah dan lain sebagainya. Pelaksanaan pendidikan di desa ini sudah cukup baik, walaupun masih terdapat keterbatasan dari segi kuantitas dan kualitas serta tentu saja kurangnya SDM tenaga pengajar.
Sekilas pengamatan KKM kami di sana selama kurang lebih satu bulan, dengan pelbagai kelebihan dan kekurangannya. Yang perlu ditekankan disini adalah, Desa Samparwadi adalah desa yang mampu bersaing secara ekonomi dengan desa lainnya, jika potensi bawang goreng dan beras lebih difokuskan lagi. Dan kemudian perlu adanya perhatian lebih terhadap kesehatan warga, terutama kulit, imbas pemakaian kali yang dipakai sehari-hari oleh warga setempat.
Ke depan diharapkan Program KKM Untirta di Desa Samparwadi khususnya, dan seluruh area Provinsi Banten pada umumnya, mampu membangkitkan daya juang masyarakat dan perhatian dari berbagai pihak. Terutama dari segi wawasan maupun keinginan, dan tentu saja adanya pemanfaatan modal finansial yang tepat guna. Semoga.
Penulis adalah Kepala Prodi Magister Ilmu Komunikasi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Editor: Aditya











