RADARBANTEN.CO.ID – Anak suka berteriak, memukul, menendang, menangis, atau berguling-guling saat keinginannya tidak turuti? Itu adalah sejumlah dari sekian banyak tanda-tanda jika anak sedang mengalami tantrum.
Tantrum merupakan ekspresi atau upaya anak agar segala keinginannya bisa dituruti oleh orangtuanya.
Mengutip dari website sardjito.co.id, tantrum diartikan sebagai perilaku marah anak-anak. Umumnya, tantrum merupakan ekspresi frustrasi dari anak karena keterbatasan dan ketidakmampuan mereka dalam mengomunikasikan pikiran dan perasaannya. Atau, bisa juga karena anak merasa orangtua tidak peduli dan tidak mau mendengarkan apa yang dia inginikan.
Tantrum biasanya terjadi pada anak-anak yang berusia satu sampai empat tahun.
Pada tingkatan tertentu, tantrum tidak hanya ditunjukkan anak dengan menangis, berteriak, atau berguling-guling. Melainkan, juga dengan menyakiti diri sendiri.
Misalnya, anak menginginkan suatu mainan, kemudian orangtuanya tidak menuruti keinginan itu karena alasan tertentu seperti harga yang terlalu mahal, atau sudah ada mainan yang serupa di rumah. Karena keinginan itu tidak dipenuhi, si anak menangis sambil mengamuk di toko mainan tanpa mempedulikan lingkungan sekitar.
Kondisi ini kerap menjadi dilema bagi orangtua, terlebih jika terintimidasi oleh tatapan orang lain yang berada di tempat tersebut.
Pertanyaannya, apakah menuruti keinginan anak saat tantrum adalah pilihan yang baik bagi orangtua? Atau sebaliknya, biarkan saja anak mengamuk meski di tempat umum dan tidak memenuhi keinginannya tersebut.
Apakah tantrum bisa menghilang begitu saja seiring waktu, seiring semakin besarnya anak tersebut?
Masih dikutip dari sardjito.co.id, memenuhi semua keinginan anak saat mereka tantrum justru bisa memperburuk keadaan.
Jika terus-menerus dituruti saat tantrum, maka perilaku tantrum tersebut bisa semakin menjadi-jadi dan frekuensinya bisa semakin meningkat.











